Kenal Pamit Danlanud ZAM Lombok NTB

Mataram, Diskominfo – Tradisi penyambutan dan pamitan Komandan Lanud TGKH. M. Zainudin Abdul Majid (ZAM) Lombok Nusa Tenggara Barat digelar acara Kenal Pamit bersama pimpinan daerah NTB di Hotel Lombok Astoria Mataram, Sabtu (14/12/2019) malam.

Istimewanya dihadiri Gubernur Zulkiflimansyah, wakil Gubernur Siti Rohmi Djalilah, Forkopimda NTB, Bupati dan Walikota, Komunitas Penerbangan Sipil Bandar Udara ZAM dan 400 an karyawan Lanud dan Angkasa Pura Bandar Udara ZAM Lombok NTB.

Jabatan Komandan Lanud yang sebelumnya dijabat oleh Kolonel Nav Budi Handiyo M.Tr. (Han) dan digantikan komandan baru yaitu Kolonel Pnb Andri Gandhy, M.Sc.

Kolonel Budi Handiyo yang mengawi acara menyampaiakn rasa syukurnya mendapat tugas di NTB selama sebelas bulan. Ketika baru dilantik mendapat tugas yang berat sehubungan dengan musibah gempa Lombok. Tugas sebagai satgas udara untuk mendistribusikan bantuan yang sangat dibutuhkan para pengungsi gempa saat itu harus sampai segera. Dikatakan pula dirinya sangat merasakan kehidupan di NTB, karena begitu eratnya persahabatan baik antara pimpinan Forkopimda juga dengan masyarakat NTB. Banyak kegiatan di lapangan yang dilakukan bersama penuh dengan rasa persahabatan dan kekeluargaan menyelesaikannya.

“begitu saya pertama kali dilantik saya langsung di temui dengan musibah gempa bumi, sehingga harus melaksanakan tugas sebagai satgas udara untuk mendistribusikan logistic kepada korban gempa bumi. Saya bisa merasakan kehidupan di Lombok ini karena saya merasa eratnya hubungan Forkopimda, sehingga dalam melaksanakan kegiatan ada suka duka diselesaikan bersama-sama, ungkapnya.

Pesan dan kesan Kolonel Budi Handiyo selanjutnya diungkapnya dalam sebuah lagu yang dinyanyikan sendiri bersama istri tercintanya. Judul lagu yang dinyanyikan Andai Kau Datang dari Koes Plus.

Giliran Komandan Lanud yang baru Kononelo Andri Gandhy menyampaikan sambutaanya meminta ijin bergabung di pemerintahan daerah dan keluarga besar Provinsi NTB serta masyarakat di daerah ini.

Kolonel Penerbangan Andri Gandy juga menyampaikan terima kasih atas sambutan dan penerimaan dirinya bertugas di NTB baik dari Pemerintah Daerah, Anggota Forkopimda, Bupati Walikota, para Camat, Kepala Desa dan seluruh warga masyarakat di daerah ini. Harapannya dalam menjalankan tugas agar menjalin kerjasama semua pihak demi memajukan Provinsi NTB tercinta ini menjadi lebih baik.

“mohon ijin kami secara pribadi menghaturkan terima kasih kepada keluarga besar Forkopimda untuk terus bekerjasama saling bagu membahu untuk melaksanakan tugas. Demikian juga mohon arahan dan bimbingan dari para senior yang ada di Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa serta seluruh masyarakat untuk menjadikan Provinsi NTB ini lebih baik semakin gemilang dan semakin maju,” ungkapnya.

Sementara itu Gubernur NTB Zulkiflimansyah mengatakan selamat datang kepada Komandan Lanut yang Baru Bapak Andri Gandhy, selamat bertugas di NTB dan selamat jalan, selamat bertugas di tempat baru Bapak Budi Handiyo, semoga di tempat yang baru dapat lebih meningkatkan prestasinya. Zulkiflimansyah juga menyampaikan banyak hal yang sudah di perbut bersama mantan Komandan Lanud Budi Handiyo. Disamping dirinya punya hobi yang sama naik motor, juga ketika menjadi DPR RI banyak koordinasi dan kerjasama yang sudah dilakukan.

“Selamat datang pak Andri dan selamat jalan pak Budi moga di tempat yang baru lebih baik lagi, tepuk tangan dong,” ungkap Zulkiflimansyah yang disambut tepuk tangan dari hadirin.

Acara Kenal Pamit Komandan Lanud ZAM dilanjutkan dengan pemberian cindra mata dari Gubernur NTB, Wakil Gubernur NTB, Masing-masing Anggota Forkopimda Kapolda NTB, Korem 162 WB, dan pejabat terkait lainnya. (Kominfo)

Dukung Produksi Kopi Lokal Lombok, Svarga Resort Gelar Kompetisi Barista

Giri Menang, Jumat 13 Desember 2019 – Pekan depan, tepatnya pada 21 Desember mendatang, Svarga Resort Senggigi akan menggelar Kompetisi Barista Kopi yang akan diikuti oleh para barista kopi dari hotel-hotel di kawasan Senggigi. Ajang ini dimaksudkan untuk memasarkan kopi dan mengangkat tren produk kopi lokal Lombok, khususnya di Lombok Barat.

Hal itu disampaikan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid pada acara Coffee Talk bersama Para Pengusaha Minuman Kopi, General Manager (GM) Hotel dan para pengelola UMKM di Svarga Resort Senggigi, Kamis (12/12) kemarin.

Disebutkan Fauzan, ada hal yang menarik di tahun 2014 kemarin, beberapa media di Eropa menemukan hal yang pararel antara jumlah peminum kopi dan penurunan penikmat alkohol.

“Ini artinya penikmat kopi lebih meningkat dibandingkan penikmat alkohol. Saya juga penikmat kopi. Minum kopi hampir lima sampai sepuluh kali sehari,” terang Fauzan.

Bupati juga melanjutkan jika industri-industri kecil seperti produksi kopi harus tetap mendapatkan perhatian lebih.

“Masalah industri kecil, UMKM ini ada prioritas kita terutama yang bentuknya produksi, seperti produk kopi yang teman-teman lakukan,” lanjutnya.

Dodi, salah satu pemilik usaha kopi menjelaskan bahwa potensi kopi di Lombok Barat sangat luar biasa.

“Saya contohkan Kopi Tradisional di Prabe Batu Mekar Lingsar. Di sana lahannya sangat luas, tetapi dari pengelolaan dan penataan kebunnya masih kurang,” ungkap Dodi.

Dodi mengaku, belum ada link untuk mengelola kebun-kebun kopi yang ada di Lombok Barat. Ia berharap semoga kedepan Lombok Barat memiliki hasil kopi yang lebih berkualitas lagi.

“Kebetulan ada beberapa petani kopi di Lombok Barat dan Lombok Timur yang saya bina dengan swadaya memberikan edukasi bagaimana proses pengelolaan dan pemasarannya,” tuturnya.

Sebagai dukungan kepada pengelola UMKM khususnya di bidang kopi, beberapa hotel di Senggigi diketahui sudah mulai beranjak mengganti supply kopi dari kopi reguler atau pabrikan ke kopi lokal.

Seperti yang disampaikan General Manager Svarga Resort, Yusuf Ali. Diakuinya, satu tahun terakhir ini sudah mulai menjajaki kopi-kopi lokal sebagai pengganti kopi reguler. Tahap menjajaki ini disebutkan Yusuf Ali tidak mudah. Ia harus melihat beberapa aspek yang sangat penting sehingga bisa berbuah positif bagi pihak hotel maupun pelaku usaha kopi. Kopi yang akan dipakai, jelasnya, harus mempunyai kestabilan rasa, dan harus bisa memenuhi kebutuhan hotel saat dibutuhkan.

“Kami sedang dalam proses itu (pindah ke kopi lokal). Prosesnya tidak sesimpel itu, karena packaging (kemasan, red) harus sesuai dan dari segi bisnis juga harus masuk. Tentu aspek kestabilan rasa dan stok produk merupakan yang paling penting dalam hal ini,” ungkap Yusuf.

Tahun Depan, Fauzan Janji Undang Kepala Daerah di Bali Ikuti Pujawali dan Perang Topat

Giri Menang, Kamis12 Desember 2019 – Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Lombok Barat (Lobar), H. Fauzan Khalid saat memberi sambutan pada event Pujawali dan Perang Topat di Taman Lingsar, Rabu (11/12). Pujawali dan perang topat, sebut bupati, merupakan kegiatan seni budaya antara umat Muslim dan Hindu. Pujawali dan Perang Topat menyuguhkan pluralisme kuat yang melibatkan dua umat beragama – Islam dan Hindu.

“Insya Allah sebelum acara puncak Perang Topat tahun 2020 saya keliling Bali untuk mengundang sejumlah bupati dan walikota,” tegas bupati.

Para Bupati dan Wali Kota di Bali, sebut bupati, perlu hadir untuk turut menyaksikan asal usulnya. Bupati akan menjalin kerja sama dan kebersamaan antara Lombok-Bali, sehingga nilai kebersamaan bisa menyebar di seluruh NKRI.

“Kegiatan ini sarat dengan simbol-simbol bahwa dua suku dan agama ini saling menghormati, saling menghargai,” ujar bupati.

Bupati Fauzan selanjutnya menjelaskan secara singkat pujawali dan perang topat. Awalnya di Lingsar, cerita bupati, pernah didatangi seorang wali (Muslim) dari Demak-Jawa Tengah bernama Raden Sumilir. Kedatangannya untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat yang relatif bersamaan, datang pula orang Hindu dari Bali untuk menyebarkan agama Hindu di Lingsar. Dalam situasi yang mengarah ke konflik tersebut, muncul ide dari para sesepuh Muslim maupun Hindu mentransformasi potensi konflik ke dalam bentuk Perang Topat.

“Dari Lingsar untuk Lombok Barat, dari Lombok Barat untuk Nusa Tenggara Barat, dan dari Nusa Tenggara Barat untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar bupati bersemangat.

Menutup sambutannya, bupati menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh komponen yang terlibat dalam gelaran Perang Topat ini. Baik remaja-remaji kedua agama, tokoh adat kedua agama serta seluruh pihak yang terlibat. Mereka dengan semangat yang kuat telah mendukung menyelengarakan acara ni.

“Semangat kita semua untuk tetap optimis untuk memajukan pariwisata berkelanjutan di Lombok Barat,” pinta bupati di hadapan duta dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Forkopimda Lombok Barat, Pejabat lingkup Provinsi NTB, pelaku pariwisata, pelaku seni budaya serta masyarakat umum yang sengaja datang dari luar Lombok Barat.

Event ini juga diramaikan dengan tarian Gendang Beleq, Baris Lingsar, Tari Perang Topat, dan Gerobak Sasak.

Pujawali dan Perang Topat merupakan ritual tradisi turun temurun masyarakat di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini memperlihatkan toleransi antar dua umat beragama serta melestarikan budaya leluhur nenek moyang. Salah seorang warga yang kerap hadir mengakui hal itu.

“Perang Topat ini ada sejak dulu masih zaman Presiden Soekarno sampai sekarang. Dan satu -satunya di Lingsar. Cari di mana-mana, tidak ada kecuali di Lingsar,” ujar Amaq Li (57) warga Desa Lingsar.

Selain itu ia menyebutkan ritual dilakukan oleh Umat Hindu dan Muslim dengan persembahyangan yang dilakukan bersamaan di masing-masing tempat yakni di pure dan kemalik. Setelah itu kedua umat melepas topat yang sudah didoakan untuk dilempar kepada warga masyarakat baik Muslim maupun Hindu yang ikut ‘berperang’.

Kemudian, lanjutnya, setelah saling lempar ketupat seukuran buah rambutan, sejumlah masyarakat mengambil dan membawa pulang. Mereka meyakini topat yang dibawa dapat menyuburkan tanaman buah, caranya mereka menggantung di pohon atau ditaruh di sawah. Dipercaya, topat tersebut akan membawa keberkahan dan kesuburan baik sawah maupun tanaman.

“Saya selalu datang setiap ada acara Pujawali Perang Topat untuk cari topat. Untuk saya taruh di sawah,” kata Amaq Li.

Upacara sakral yang memiliki nilai ritual yang sangat dalam dan magis ini biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purnama Sasih ke Pituq menurut warige sasak. Kegiatan yang dilakukan dari generasi ke generasi ini menunjukkan sikap hormat kesetiaan kepada Datu Semilir atas jasanya mensyiarkan Agama islam tempoe dulu dan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu event Perang Topat ini dilaksanakan setelah selesainya persembahyangan Umat Hindu yaitu ketika raraq kembang waru atau di saat bergugurannya kembang waru sekitar pukul 17.00 Wita atau sebelum Magrib.

Perang Topat juga bisa dimaknai sebagai upaya menguatkan tali persaudaraan serta hubungan silaturahmi antara masyarakat Sasak Hindu dan masyarakat Sasak Islam. Sebagian masyarakat Lingsar meyakini bahwa upacara ini akan memberi berkah dengan turunnya hujan. Sementara sebagian yang lain menyebutkan bahwa upacara ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang dikaruniakan oleh Yang Maha Kuasa bagi kemakmuran dan kesuburan alam. (Tim Humas)

Tahun

Bukan Sekedar Efisiensi, Pemkab Lobar Gelar Lima Peringatan dalam Satu Acara

Giri Menang, Kamis 12 Desember 2019 – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menggelar peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN), Hari Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI, Hari AIDS Sedunia, Hari Bhakti Pekerjaan Umum, dan Hari Dharma Wanita Persatuan (DWP) secara serentak, Rabu (11/12) kemarin. Puncak peringatan kelimanya dilaksanakan di Kantor Bupati dengan menggelar banyak kegiatan.

Kegiatan diawali dengan senam pagi, jalan sehat mengelilingi kawasan pusat perkantoran bupati disertai denganpembagian doorprize. Kegiatan juga diisi dengan bazaar murah, dan layanan kesehatan gratis.

Penggabungan banyak acara peringatan bukan semata-mata untuk efisiensi waktu dan efektivitas tujuan, namun menjadi gambaran tentang keluasan tugas dan kewajiban selaku pemerintah daerah. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Lobar Hj. Sumiatun saat memberikan sambutan pada kegiatan tersebut.

Memperingati Hari Bhakti Pekerjaan Umum, Sumiatun berharap semangat pelayanan yang bersifat infrastruktur harus juga ditransformasikan menjadi pelayanan sosial yang lebih luas kepada masyarakat. Dalam konteks itu, maka Pemerintah dan seluruh aparaturnya, tidak boleh menjadi elitis.

“Kita harus mentransformasi diri dari ‘dilayani’ menjadi ‘melayani’. Maka Aparatur Sipil Negara adalah pemberi layanan yang harus prima kepada masyarakat luas,” tegasnya.

Dalam kaitannya dengan peringatan hari KORPRI, Sumiatun mengajak setiap anggota KORPS harus saling dukung satu dengan lainnya, berkoordinasi dan saling empati dalam gotong royong, dan menjadi pelengkap bagi lainnya. Mantan Ketua DPRD Lobar ini mengibaratkan KORPRI sebagai satu “bangunan” atau “tubuh” yang saling menguatkan satu dengan lainnya. Bila satu mengalami sakit, maka sakit tersebut akan berdampak dan menjadi sakit bagi yang lainnya. Bila satu lemah, maka akan melemahkan struktur bangunan lainnya.

Dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai ASN, ia mengambil contoh misalnya satu keberhasilan yang diusung oleh satu Perangkat Daerah, maka keberhasilannya bukanlah keberhasilannya sendirian secara parsial, namun keberhasilannya adalah milik Perangkat Daerah lainnya yang telah berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena banyak irisan tugas yang sama dan sejalan.

“Inilah makna hakiki mengapa kita memperingati setiap tahun Hari KORPRI di mana hari ini kita menggabungkannya dengan peringatan-peringatan yang lainnya,” ujarnya.

Sumiatun kemudian melanjutkan bahwa secara personal, setiap ASN itu berinterkasi secara kontinyu dan dinamis dalam spektrum sosial. Maka menurutnya dalam upacara kali ini, menjadi sangat relevan ketika Hari KORPRI diperingati bersamaan dengan Hari Dharma Wanita.

“Wanita yang ber-dharma adalah kaum perempuan yang memberikan kontribusi utuhnya dalam pembangunan manusia. Dalam spektrum pendidikan ditegaskan, sosok ibu adalah sekolah pertama bagi umat manusia. Para ibu tidak hanya menjadi media pemberian kehidupan, namun telah menjadi penentu peradaban manusia,” jelas Sumiatun disambut tepuk tangan dari para hadirin yang hadir dalam peringatan tersebut.

Erat kaitannya dengan kesehatan, Sumiatun melihat lifestyle para ibu dalam pola asuh menjadi sangat mempengaruhi pembangunan yang bergerak di bidang kesehatan. Di era multimedia dan revolusi industri 4.0 yang hari ini telah merambah sampai ke ruang-ruang private dan keluarga, maka keluarga terutama ibu menjadi benteng yang diharapkan sangat kuat terhadap intervensi pengaruh multimedia yang negatif.

“Untuk itu, selaku Kepala Daerah saya memberikan porsi perhatian penting pada sosok ibu dan para calon ibu. Perhatian tersebut harus diderivasikan dalam aneka program yang melekat pada Perangkat Daerah di mana Dharma Wanita Persatuan Patut Patuh Patju menjadi pendorong utamanya,” katanya.

Menyangkut media, dengan semakin mudahnya siapapun mengakses informasi yang negatif melalui berbagai media. Salah satu contoh disebutkan Sumiatun adalah fenomena media sosial dan media online yang tidak terbatas, sehingga penyimpangan perilaku, terutama penyimpangan seksual telah dianggap sebagai fenomena biasa dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu. Tentu menjadi sangat berbahaya bagi pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

“Alhamdulillah, dengan perayaan Hari AIDS se-dunia, kita semua diingatkan bahwa tidak ada benteng moral sosial terbaik buat kita kecuali agama, norma, hukum, dan etika yang dibangun secara dini melalui keluarga,” pungkasnya.

 

HUT DWP Lobar, Sekda dan Ketua DPW Pamitan

Giri Menang, Rabu 11 Desember 2019 – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Dharma Wanita Persatuan (DWP) di Lombok Barat (Lobar) tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Momen HUT DWP ke-20 yang digelar di Aula Kantor Bupati ini dimanfaatkan Sekda Lobar H. Moh. Taufiq bersama sang istri yang juga merupakan Ketua DWP Lobar Hj. Sukerniati untuk berpamitan. Seperti diketahui, masa jabatan Sekda Taufiq akan berakhir akhir tahun ini.

Dalam kesempatan itu, sekda meminta maaf mewakili istrinya kepada masyarakat selama menjabat.

“Saya tidak lagi menjabat sebagai sekda pada Januari 2020 mendatang. Begitu juga Istri saya tidak lagi menjabat Ketua DWP Lombok Barat. Tentu Ibu Sukerniati selama menjabat ketua DWP ada yang kurang berkenan baik tata kata, ucapan, dan tindakannya mohon dimaafkan,” kata sekda, Selasa (10/12).

Meskipun masa jabatannya tinggal menghitung hari, namun sekda terus memberikan motivasi agar DWP Lombok Barat kedepannya harus mampu menjadi mitra pemerintah untuk ikut membangun Kabupaten Lombok Barat.

“Ulang tahun itu harus memaknai beberapa hal di antaranya intropeksi diri secara individu kemudian melihat apa yang pernah dilakukan terdahulu. Baik yang sudah baik maupun kurang bagus. Yang kurang itu di perbaiki. Itu makna dari ulang tahun,” ungkapnya.

“DWP harus berprestasi karena di setiap kompetisi apapun harus berani tampil, jangan kalah panggung. Karena kita memiliki moto Amanah Sejahtera dan Berprestasi (Mantap). Dimana semua harus berprestasi, berani tampil dulu, baik itu level provinsi atau nasional,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Penasehat DWP Lobar Hj. Khaeratun Fauzan Khalid mengapresiasi pengurus DWP Lobar karena telah banyak memberikan kontribusi dalam hal membantu program Pemkab Lobar.

“DWP ikut turun mendukung OPD dan turun ke masyarakat untuk mengoptimalkan program pemerintah seperti penanganan stunting dan pelatihan peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

“Sebagai pendamping suami kita harus pintar, cerdas, cantik, dan berakhlak,” pungkasnya.

Rakor TKPKD, Sumiatun Tekankan Hal ini

Giri Menang, Selasa 10 Desember 2019 – Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Sumiatun menegaskan agar penurunan angka kemiskinan tetap menjadi prioritas utama dalam perencanaan dan pembangunan di Kabupaten Lombok Barat. Salah satunya melalui pengelolaan pasca panen dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sehingga terjadi penyerapan tenaga kerja yang bermuara pada penurunan kemiskinan dan memaksimalkan Penggunaan Produk Lokal.

Hal itu disampaikan Hj. Sumiatun saat membuka Rapat Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Lombok Barat TA. 2019 di Batulayar, Selasa (10/12).

“Kondisi ini saya tekankan karena angka kemiskinan di Lombok Barat masih tinggi, yaitu sebesar 15,20% Tahun 2018 atau sekitar 103.770 jiwa. Oleh karena itu, masyarakat miskin harus diberdayakan, baik melalui peningkatan pendapatan, peningkatan kualitas hidup maupun pengurangan beban pengeluaran,” tegasnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, wakil bupati wanita pertama di Lombok Barat ini mengingatkan para Kepala Perangkat Daerah yang hadir untuk menekankan arah kebijakan pembangunan daerah pada lima hal.

“Pertama, masyarakat miskin harus sekolah, minimal mereka dapat mengikuti pendidikan menengah (SMK/SMA). Kedua, masyarakat miskin harus ditingkatkan derajat kesehatannya melalui ketersediaan sarana prasarana kesehatan dan jaminan kesehatan, serta optimalisasi pola hidup bersih dan sehat. Ketiga, masyarakat miskin perlu difasilitasi ketersediaan rumah layak huni beserta sarana pendukungnya seperti air bersih, sarana sanitasi dan listrik. Keempat, masyarakat miskin perlu ditingkatkan kualitas hidup keluarganya melalui ketahanan keluarga dan pencegahan pernikahan dini. Dan kelima, masyarakat miskin perlu diberi kemudahan akses mata pencaharian melalui pengembangan usaha kecil menengah,” paparnya.

Agar optimal, Sumiatun menghimbau para Kepala Perangkat Daerah menggunakan pola sharing program dan anggaran sebagai solusi dalam membangun sinergitas dan komplementaritas penanggulangan kemiskinan secara berkelanjutan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Kepala Bappeda Lombok Barat, Ketua DPRD Lombok Barat, Kepala BPS Lombok Barat, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Barat, dan LAZ DASI NTB.

Esok Dinas Pariwisata Lobar Gelar Prosesi Perang Topat

Giri Menang, Selasa 10 Desember 2019 – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Pariwisata tetap akan menyelenggarakan prosesi Pujawali Pura Lingsar dan Perang Topat Tahun 2019, esok Rabu (11/12/2019). Sebelumnya, berbagai kegiatan dihelat oleh Dinas Pariwisata untuk meramaikan prosesi yang disebutnya sebagai prosesi religi dan budaya. Setelah kegiatan “Peresean” dilangsungkan sejak tanggal 5-9 Desember 2019, maka hari ini berbagai kegiatan digelar sebagai rangkaian puncak prosesi Perang Topat 2019.

Di temui di ruang kerjanya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata, Hj. Lale Prayatni menerangkan berbagai kegiatan untuk meramaikan Pujawali dan Perang Topat tersebut.

“Sejak pagi tadi, kita menyelenggarakan live painting (seni lukis, red) dan cilokak (kesenian music khas Suku Sasak, red). Lalu siangnya kita selenggarakan Haul KH. Abdul Malik atau Raden Mas Kerta Jagad yang diyakini masyarakat Lingsar sebagai penyebar Islam pertama di Lingsar yang kita rangkaikan dengan Begawe Gubog (Roah Kampung, red) untuk kalangan Umat Islam. Secara paralel roah itu kita teruskan dengan upacara Mendak Tirta bagi Umat Hindu di sekitar Pura Lingsar. Puncaknya untuk hari ini adalah nanti malam, yaitu pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Lalu Nasib dan kesenian gandrung. Yang paling fenomenal adalah sore hari nanti, yaitu ritual Kelilingan Kao (mengarak kerbau, red) yang menjadi simbol kebersamaan dan persatuan antara umat Hindu dan Umat Islam,” terang Lale Prayatni panjang lebar, Selasa (10/12/2019).

Kelilingan Kao, imbuh Lale, adalah simbol kebersamaan antar umat dalam kehidupan sehari-hari. Seekor kerbau gemuk disiapkan oleh Panitia untuk dikelilingkan ke area Pura Lingsar. Kerbau tersebut diikat oleh dua tali di mana setiap tali dipegang dan dikendalikan oleh setiap orang dari masing-masing umat.

“Kerbau bukan saja simbol pertanian, tapi juga yang mempersatukan umat berbeda agama dan suku. Bukan sapi atau babi, tapi kerbau. Kalau sapi, nanti Umat Hindu kurang menerima karena dianggap suci. Begitu juga bukan babi yang bagi umat Islam adalah haram. Maka kerbau yang dipilih,” terang perempuan berkaca mata yang sehari-harinya juga menjabat sebagai Asisten Bidang Pembangunan dan Perekonomian di Sekretariat Daerah.

Prosesi puncaknya sendiri baru berlangsung esok hari. Bertepatan dengan “rarak kembang waru” (bergugurannya kembang waru, red) pada “Sasih ke Pituk” (bulan ketujuh, red) pada kalender Suku Sasak, Perang Topat rencananya akan dihadiri langsung oleh Bupati Lombok Barat beserta seluruh tamu kehormatan lainnya.

“Besok puncak acara Perang Topat. Pak Bupati akan memulai pelemparan ketupat pertama sebagai tanda dimulainya prosesi Perang Topat,” papar Lale.

Di tengah masalah hukum yang menimpa Dinas Pariwisata Lombok Barat akibat Operasi Tangkap Tangan (OTT) Kepala Dinasnya saat itu, IJ, dinas tersebut tetap menggelar event yang diklaim sebagai event satu-satunya event kepariwisataan yang menggambarkan toleransi di tengah pluralism. Dihubungi melalui pesan WhatsApp, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid meminta kegiatan kepariwisataan jangan dihubung-hubungkan dengan masalah hukum yang menimpa Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, IJ.

“Yang bersangkutan sudah kita berhentikan dari jabatan, dan kita sudah menunjuk Asisten II sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas. Saya yakin seluruh kegiatan kepariwisataan di Lombok Barat tetap digelar sesuai jadwal, termasuk Perang Topat. Kita tidak terpengaruh sama sekali. Seluruh jajaran Dinas Pariwisata siap bekerja secara optimal untuk menghidupkan kepariwisataan di Lombok Barat,” tulis Bupati Lombok Barat.

 

HAKTP 2019. Jangan 16, tapi 19

Giri Menang, Senin 9 Desember 2019 – Oxfam Indonesia menggelar Diskusi Publik tentang revisi Undang-Undang Perkawinan mengenai batas usia minimal perempuan menikah. Kegiatan ini dalam rangka kampanye yang diberi nama ’16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 2019′ bertempat di Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (9/12). Kegiatan ini ditujukan untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan atau yg disingkat Enough! atau Cukup!.

Herina Hampun dari Oxfam Indonesia dalam sambutannya menyebut kegiatan yang dilakukan adalah didukung oleh Revisi UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu usia kawin dari 16 tahun meningkat menjadi 19 tahun minimal bagi perempuan. Revisi ini, ujarnya, mendukung upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Kampanye ini merupakan kampanye internasional yg dimulai 25 Nopember bertepatan dengan Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, hingga 10 Desember yg merupakan Hari Hak Asasi Manusia. Kegiatan ini, lanjutnya, dimulai oleh para aktivis di Women’s Global Leadership Institute tahun 1991.

Tahun 2016, Oxfam Internasional berinisiatif mengadakan kampanye global bertajuk “ENOUGH!:Together We Can End Violence against Women and Girls” atau dalam Bahasa Indonesia “CUKUP!: Ayo Bersama Kita Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan”.

Oxfam, sebutnya, merupakan lembaga non profit yg berdiri sejak 1957, bekerja bersama pemerintah dan pihak lainnya dalam mengkampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Melalui Kementerian Sosial RI, ujarnya, Oxfam menandatangani Memorandum of Understanding untuk bekerja di 7 Provinsi, salah satunya NTB.

Oxfam, dalam kegiatan ini mengkolaborasikan 4 proyek yang melibatkan perempuan dan anak perempuan, yaitu Creating Spaces (CS), the Indonesian Women in Leadership (I-WIL), Power-Up (PU), dan Empower Youth for Work (EYW). Oxfam bersama mitra sepakat mengubah norma di masyarakat mengenai usia pernikahan perempuan dari 16 menjadi 19 tahun atau yg disingkat ‘Jangan 16, Tetapi 19’.

Asisten III Sekretariat Daerah NTB, Hj Siti Hartina, mewakili pemerintah Provinsi menyebut data kekerasan terhadap perempuan meningkat 16% dari 2017 ke 2018. Halina menyebut kasus-kasus kekerasan yang banyak terjadi. Yaitu kekerasan dalam wilayah pribadi, kekerasan dalam Perkawinan yg disebabkan keinginan aneh suami dalam aktivitas seks, kekerasan dalam hubungan sedarah (inses), bahkan termasuk kekerasan dalam berpacaran.

“Hati-hati Bapak-bapak yg mau selingkuh, ibu-ibu sudah hebat, berani melapor ke atasan suami,” ujarnya.

Selanjutnya, Halina menyebut pernikahan dini merupakan persoalan yang cukup besar di NTB. Namun, ia menegaskan, pernikahan dini jangan dianggap disebabkan oleh adat kebiasaan merarik suku Sasak.

“Merarik itu punya etika dan tata krama yg kalau dilaksanakan tidak akan begitu saja bisa dilakukan,” ujarnya.

Pernikahan dini, lanjutnya, bisa menyebabkan masalah sosial lainnya seperti penyakit kanker serviks, kawin cerai dan kemiskinan.

Angka pernikahan dini di NTB memang cukup tinggi, kabupaten/kota berupaya menekan angka ini. Salah satu yg cukup menonjol adalah Lombok Barat.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, Penyuluhan, dan Penggerakan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A)
Lombok Barat, Erni Suryana menjelaskan sejak 2015 pihaknya telah melaksanakan program Gerakan Anti Merarik Kodek (GAMAK). Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Bupati Lombok Barat No 843.4/34/BKBPPP/2016 dan PERBUP No 30 Tahun 2018 tentang program GAMAK Usia Ideal Menikah 21 tahun untuk pria dan perempuan. Bahkan, 18 Desember nanti akan di-Perda-kan yaitu PERDA No 7 Tahun 2019.

“Dengan PERDA ini menjadikan Lombok Barat merupakan satu-satunya kabupaten/kota yang memiliki Perda batasan usia pernikahan di NTB. Melalui inisiatif DPRD Lombok Barat akan diteruskan ke peraturan desa dengan PERDA tersebut sebagai payung hukumnya,” jelas Erni.

Program tersebut lanjutnya, terbukti sudah menampakkan hasil. Data tahun 2015, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yg menikah di bawah usia 21 tahun sebanyak 56,77%, tahun 2017 turun menjadi 22,79%.

Kegiatan diskusi yg sebagian besar pesertanya perempuan ini didukung oleh sejumlah instansi lingkup NTB dan lainnya. Di antaranya DP3AP2KB, Dinas Kesehatan, Konsorsium ADARA, Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI), Dinas Sosial, dan lain-lain.

Adu Cepat dalam CCI Series XXXI Hari Pertama

Giri Menang, Jum’at 6 Desember 2019 – Para peserta pembalap sepeda pada Customs Cycling Indonesia (CCI) Series XXXI Bupati Cup Lombok Barat 2019 mulai unjuk diri di hari pertama, Jum’at (6/12/2019).

Seratus dua puluh lima pembalap adu cepat tepat waktu dalam lomba kategori Individual Time Trial (ITT) mulai start dari jam 08.00 pagi sampai jam 9.30, dengan mengambil lokasi di Bypass BIL II dengan jarak tempuh 8,5 kilometer. Para peserta berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan tercatat ada yang datang dari Malaysia, dan Britania Raya.

“Untuk hari pertama, peserta CCI Series XXXI kategori Individual Time Trial berjalan lancar dan sukses. Besok kita akan melaksanakan dua kegiatan lagi untuk kategori Road Race distance 38,1 Km, 51,5 Km, 64,9 Km dan 109,7 km dan Criterium distance 1,46 Km / Lap,” kata Ma’ad Adnan, Panitia Daerah CCI Series XXXI yang juga adalah Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Lombok Barat.

Ma’ad Adnan merasa sangat bangga dengan terselenggaranya CCI Series XXXI di Kabupaten Lombok Barat.

“Kita inginkan semoga kegiatan CCI Series XXXI bisa menjadi agenda tahunan di Kabupaten Lombok Barat, karena ini hal yang sangat positif untuk ajang mempromosikan daerah kita,” harapnya.

Disebutkan Adnan, kegiatan CCI Series XXXI adalah yang pertama kali diadakan di Lombok Barat dari gelaran yang sudah masuk tahun ke sepuluh.

Race Director CCI XXXI, Bertali menimpali positif keinginan Ma’ad Adnan. Cuma, kata Bertali, pihak Pemkab Lombok Barat harus segera bersurat untuk bisa menjadi tuan rumah lagi di tahun depan.

“Pemkab harus bersurat untuk meminta bisa menjadi tuan rumah lagi. Untuk tahun depan, seri pertama hampir pasti kita selenggarakan di Bojonegoro yang sudah minta,” terang Bertali.

Jika jauh hari ditentukan sebagai tuan rumah, imbuh Bertali, maka sosialisasi bisa lebih cepat dilakukan.

“Di samping untuk mencapai target peserta, masyarakat yang menonton juga bisa mendukung pelaksanaan race,” tambah Bertali.

Untuk Kategori Individual Time Trial (ITT) dinilai berdasarkan dengan kecepatan waktu. Sampai dengan berita ini dilaporkan, pihak penyelenggara belum menentukan yang terbaik untuk semua kategori peserta. Dalam penilaian juara, secara keseluruhan para peserta berlomba untuk adu cepat mengumpulkan poin. Poin yang diraih pada dua seri sebelumnya, yaitu di Gunung Kidul dan Purworejo, akan diakumulasikan dengan point di seri ketiga ini.

“Final (penghitungan) nya ada di etape terakhir. Mereka berusaha secepat mungkin untuk mendapatkan poin yang tertinggi,” terang Bertali.

Misbah, salah satu peserta dari kategori Master B (50 tahun ke atas) asal Kota Mataram mengaku kegiatan CCI Series XXXI yang diadakan di Lombok Barat dianggap telah berjalan sukses.

“Semoga CCI Series XXXI bisa diadakan setiap tahun dan peserta yang mendaftar bisa lebih banyak lagi,” harapnya.

Kesan yang sama diutarakan oleh Roy, peserta asal DKI Jakarta. Di tempat yang sama usai berlomba, Roy menyatakan sangat terkesan sekali dengan terselenggaranya acara CCI. Ia kagum dengan kesigapan panitia, mulai dari pengamanan dan jalurnya yang sangat bagus untuk dilewati.

“Saya sangat puas sekali dengan penyelenggaraan ini, karena dukungan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Barat sangat baik dan orang-orangnya sangat ramah seperti official penyelenggara, nyambung diajak untuk berkoordinasi. Semoga untuk tahun berikutnya lebih meriah lagi,” harapnya.

Menurut Roy yang juga Ketua Tim KGB (Kelapa Gading Bikers) yang beranggotakan 12 orang, acara seperti ini mestinya bisa diadakan setiap tahun. Apalagi event ini bagus sekali untuk menarik wisatawan dari luar yang ingin ikut lomba.

HMPI Serentak Ribuan Pohon Ditanam

Giri Menang, Jum’at 6 Desember 2019 – Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) NTB dilaksanakan serentak hari ini, Jum’at (6/12/2019). Di Kabupaten Lombok Barat, seremoni memperingati HMPI digelar di lintas jalur bypass BIL di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri.

Di Kabupaten Lombok Barat, sepanjang tanhun 2019 ini, lebih dari empat ribu pohon dengan berbagai jenis sudah ditanam. Secara khusus, pada gelaran HMPI, penanam pohon dilakukan di jalur lintas yang menghubungkan Lombok Barat-Kota Mataram.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat melalui Sekretaris, H. Suhaili melaporkan, penanaman pohon di jalur lintas bypass BIL karena keberadaan jalur sangat penting sebagai penunjang arus transportasi darat antar kabupaten di NTB. Peranannya sangat strategis, bisa mendukung perekonomian masyarakat kini dan waktu mendatang.

“Karena jalur bypass BIL ini langsung terkoneksi dengan bandara dan Pelabuhan Lembar,” sebut Suhaili seraya mengajak semua pelaku usaha dan sosial ikut berprtisipasi menjaga lingkungan dalam mewujudkan kota yang asri.

Menurut Suhaili, pada HMPI Lombok Barat yang ke-11 ini penanam pohon diawali dari jalan flyover Desa Banyumulek dengan melibatkan seluruh pejabat lingkup Pemerintah Lombok Barat, ASN, Forkopimda serta pejabat lingkup Provinsi NTB dan masyarakat.

Di tepmat yang sama, Bupati Lombok Barat melalui Sekda H. Moh. Taufiq berharap, pada setiap momen peringatan hari menanam pohon, tidak sekedar seremoni dan simbolis belaka. Karena kata sekda, yang namanya hari menanam pohon supaya ditujukkan dengan fakta, janji menanam pohon 25 batang seumur hidup.

“Coba tanya pada gelaran hari ibu, bapak ibu sudah menanam pohon berapa. Kalau sudah banyak Alhamdulilah, tapi kalau belum, mari mulai hari ini kita berniat seperti tekad kita menanam 25 batang seumur hidup,” pesan sekda.

Menurut dia, Lombok Barat pernah mendapat penghargaan karena banyak menanam pohon. Tapi waktu kian berkurang, dan sekarang bisa direbut itu kembali dan tunjukkan kemampuan untuk menanam pohon sebanyak-banyaknya.

“Satu hal yang menjadi perhatian kita, menamam pohon ini, kita sering berpendapat bahwa, pemerintah yang harus menjadi depan. Tapi tanpa dukungan masyarakat dan berbagai stakeholder, tidak mungkin itu bisa berjalan,” pesan sekda.

Namun dia menyadari bahwa, pemerintah sering dibatasi karena pangaruh anggaran baik di Kabupaten Lombok Barat maupun pemerintah provinsi, meskipun tekad yang demikian besar. Sekda meminta, menanam pohon seharusnya semua bisa bergerak untuk menjaga lingkungan. Karena sebagai mahluk hidup lanjutnya, diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Tetapi ada kalanya untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup itu.

1 2 3 44