Khutbah Shalat Idul Fitri 1435 H oleh Bupati Lombok Barat DR.H. Zaini Arony

Dengan Puasa Kita Kembali Ke Fitrah Untuk Mewujudkan Ketaqwaan Sejati أَلسَّلاَمُ ...

Pesan Idul Fitri Menteri Agama, Mari Kembali ke Jati Diri

Jakarta (Pinmas) —- Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan 1 Syawwal 1435H ...

Bupati Pimpin Rapat Persiapan Lebaran Topat

            Bertempat di Ruang Rapat Utama (RRU) Kantor Bupati Gedung Putih, Kamis ...

Peternak Merembu Galakkan Pakan Organik

Pakan ternak bernutrisi dan alami adalah harapan para petani peternak untuk mendapatkan kualitas ...

Pemkab Lobar Keluarkan Edaran Terkait THR

GIRI MENANG-Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar), mengeluarkan surat edaran terkait dengan ...

Meretas Keterisoliran Warga Aikmual, Sekotong Timur

Safari Ramadhan DPD I Persatuan Tarbiyah Islamiyah provinsi NTB semalam (16/7) melakukan ...

Pesan Bupati Disampaikan oleh Camat Lingsar pada Pengajian Akbar Pemuda NW: Minta Warganya Tidak Terprovokasi

Terkait Hasil Pilpres GIRI MENANG-Bupati Lombok Barat (Lobar) H Zaini Arony meminta seluruh ...

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Giri Menang: Mengikuti sosialisasi dan distribusi bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) ke Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hikmah Langko di penghujung Bulan Mei, Kamis (31/5) kemarin, Bupati Lobar Dr. H. Zaini Arony, M.Pd., mengatakan dalam beragama tidak perlu fanatik pada simbol-simbol agama tapi pada ajarannya.

“Kita jangan fanatisme simbol tapi fanatisme ajaran (agama, red),” ujar pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga NTB tersebut. Dijelaskannya, kita sering fanatik pada simbol semata sehingga tidak tahu kalau simbol itu sebenarnya ada yang bukan berasal dari Islam. Dia mencontohkan baju koko yang sering disebut baju/busana muslim. Padahal menurutnya itu adalah buatan Cina.

“Kita sering kalau diundang roah (sejenis doa selamatan, red) kalau tidak pakai baju muslim `koko` kurang afdol, padahal bukan asli buatan Islam,” ujar laki-laki yang pernah 2 kali ke Cina itu. Tidak hanya itu, disebutkan Zaini, tasbih yang sering dipakai zikir setelah shalat juga bukan asli buatan Umat Islam melainkan Umat Budha. Jadi, ditegaskannya kembali, ajaran agama yang harus kita fanatiki bukan simbolnya tapi pelaksanaan dari inti ajaran agama tersebut.

Bupati Zaini juga memberi contoh kalau zaman dulu belajar Bahasa Inggris itu dianggap haram karena bahasa kaum penjajah. Lalu Zaini bercerita mengapa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di negara-negara Arab kebanyakan hanya menjadi sopir dan Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang dijawabnya sendiri karena TKI maupun TKW kebanyakan tidak bisa Bahasa Inggris.

“Kita kalah dengan tenaga kerja dari Filipina maupun Korea yang di negara-negara Arab, mereka menduduki posisi yang lebih tinggi hingga manager karena mereka bisa Bahasa Inggris,” ujar Zaini prihatin sekaligus memotivasi.

Terkait dengan pendidikan, pria yang memang lebih dari 20 tahun menjadi insan pendidik ini menyatakan generasi muda Islam harus cerdas baik secara intelektual, fisik, emosional maupun spiritual. Ada keseimbangan antara semuanya, tidak hanya intelektual saja atau spiritual saja. Dia juga bersyukur dengan adanya Ponpes-ponpes yang tidak hanya membuat lembaga yang mengajarkan agama tapi juga umum seperti Ponpes Al-Hamidiyah Kediri dan juga Ponpes Nurul Hikmah sendiri yang memiliki SMP dan SMK.

Disambut dengan pertunjukan Marching Band dari para santri Nurul Hikmah yang cukup bagus, Bupati Zaini menyebut Marching Band menyebut hal itu sebagai salah satu unsur seni pendidikan yang merupakan hasil dari olah rasa. “Ini merupakan kebanggaan bagi Ponpes, siswa dan orangtua siswa,” ujar Zaini memuji Marching Band yang beranggotakan lebih dari 30 santri.

Sementara itu, ucapan selamat datang oleh pimpinan Ponpes Nurul Hikmah oleh TGH. Azhar Rasyidi menyampaikan terima kasih atas kedatangan bupati dan Baznas Lobar. Dikatakannya, Ponpes Nurul Hikmah didirikan akhir tahun 2000 yang mengelola pendidikan formal, informal dan social kemasyarakatan. Seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SMP dan SMK Islam.

Selain itu, pada hari itu juga (31/5) oleh bupati diresmikan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan Koperasi Ponpes (Kopontren) dengan omzet lebih dari Rp 100 juta. “Kami ingin Ponpes kami terus maju sesuai dengan moto kami “Maju Terus Pantang Mundur”,” ujar TGH Azhar bersemangat.

Perkenalan dari Baznas Lobar kali ini disampaikan oleh Wakil Ketua Baznas TGH. Muh. Yusuf. Mengawali perkenalannya, TGH. M. Yusuf mengatakan di masa Rasulallah masih hidup, karena Nabi adalah penguasa tunggal, tidak ada yang mengingkari atau menolak membayar zakat. Tapi setelah Beliau wafat yaitu di masa Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq, ada sejumlah orang yang menolak membayar zakat. Padahal kalau zakat benar-benar dikumpulkan dan dikelola dengan baik akan sangat bermanfaat.

“Kalau saya tidak salah, Senin, 13 Desember 2010, kami mulai diperintah oleh Bupati Zaini untuk sosialisasi zakat ke seluruh SKPD, kecamatan se-Lobar,” ujarnya dan melanjutkan itu bisa terealisasi dalam waktu hanya 6 bulan. Zakat harta ini diambil dari PNS yang ada di Lobar. Pengurus Baznas Lobar, sebagaimana dikatakan TGH. Muh. Yusuf, diambil dari para tuan guru yang ada di Lobar dari masing0-masing kecamatan, juga tokoh agama, tokoh masyarakat, dan LSM.

Dana yang sudah terkumpul disebutkan TG Muh. Yusuf sudah lebih dari Rp 2 M. “Kalau zakat ini terus dikumpulkan dan ditambah dari hasil panen padi, jagung dan lain-lain serta dari para pengusaha, maka kemiskinan di Lobar akan terus berkurang,” ujarnya.

Disebutkan, Baznas Lobar telah menyalurkan bantuan kepada 6 Ponpes yaitu Darussalam Bermi, At-Tahzib Kekait, As-Sa`adah Labuapi, Al-Abhariyah Terong Tawah, Al-Hamidiyah Kediri dan termasuk Nurul Hikmah Langko.

Bupati Zaini Arony pada bagian akhir sambutannya menyampaikan sejak Oktober 2011 sudah ada Perda Zakat sehingga Lobar legal dalam memungut zakat. Sasarannya terutama pendidikan yaitu membantu Ponpes sekaligus para siswa atau mahasiswa berprestasi tapi tidak mampu secara ekonomi. “Pemerintah tidak akan berhasil dalam bidang pendidikan tanpa bantuan pondok (Ponpes, red), sehingga kita membantu Ponpes-ponpes yang ada” pungkasnya.

Acara terakhir yaitu pemberian bantuan kepada beberapa Ponpes di Lingsar dan para siswa/mahasiswa mustahikin serta peresmian SDIT dan Kopontren Nurul Hikmah. (Romi/Bus/Dedi)

.