Pemda Lobar Rancang Rumah Hunian Sementara Korban Terdampak Gempa

Lingsar-Rapat evaluasi harian pacsa gempa M 7,0 yang terjadi Minggu (5/8) malam lalu dilakukan di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana (TDB) kantor Camat Lingsar, Sabtu (18/8/2018. Rapat tersebut dihadiri langsung Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dodik Gusnandi, Direktur Penilaian Kerusakan BNPB Tety Saragih, Kalaksa BPBD NTB HM. Rum, Kalaksa BPBD Lobar HM Najib, Kepala Dinas PUPR Lobar Made Arthadana.

Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid menegaskan, bahwa kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh para pengungsi saat ini seperti air minum, terpal,  selimut agar segera bisa didistribusikan ke lokasi sasaran. Kebutuhan-kebuhan mendasar dan mendesak lainnya bisa diusulkan ke Pemerintah Provinsi NTB melalui Kalaksa BPBD NTB untuk disiapkan melalui bantuan cadangan. “Untuk itu kepada Kalasa BPBD Lobar agar segera menyusun rencana kebutuhan yang diperlukan bagi para pengungsi terdampak gempa  khususnya yang ada di Lombk Barat.

Bupati juga mengutarakan rencana Pemda Lombok Barat untuk merancang sekaligus membuatkan Rumah Hunian Sementara (RHS) bagi para pengungsi yang ditempatkan di satu lokasi atau titik terjadinya gempa yang nantinya akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung lainnya terutama sanitasi seperti penyediaan air bersih, MCKdan lainnya. “Untuk itu kami minta kepada Dinas PUPR untuk membuat formula rancang bangunan RHS yang memenuhi standar kelayakan untuk ditempati,” pinta Bupati.

Terhadap berbagai usulan tersebut baik  dari BNPB Pusat dan BPBD NTB menyarankan kepada pemerintah Kabupaten/Kota termasuk Lombok Barat untuk mengajukan surat permohonan kebutuhan di lapangan yang masih perlu mendapatkan dukungan dari Pemerintah Provinsi. “Pemerintah pusat juga siap akan membantu, jika nantinya kebutuhan cadangan  di tingkat provinsi maupun kabupaten kota sudah tidak ada,” kata Sekretaris Utama BNPB Dodik Kusnandi.

Sementara itu Direktur Penilaian Kerusakan BNPB Tety Saragih mempertegas soal upaya pendaaan atau verifikasi rumah rusak berat terdampak gempa yang menjadi prioritas utama percepatan rekonstruksi sebagaimana diarahkan Presiden RI Joko Widodo.

Namun persoalannya menurut Tety dalam rentang waktu yang sangat limit yakni seminggu ke depan sebelum masa tanggap darurat berakhir 25 Agustus 2018, tenaga vervikator yang ditugaskan untuk mendata dan memperivikasi rumah rusak berat harus bekerja ekstra keras. Pasalnya dari 54 ribu lebih  rumah yang rusak di Lombok Barat setidaknya harus diperifikasi rata-rata 10 ribuan rumah per hari.

“Satu orang verifikator harus menyelesaikan tahapan perivikasinya sebanyak 30 unit rumah rusak dalam sehari.  Idealnya seperti itu dengan tenaga verifikator saat ini khususnya di Lombok Barat sebanyak 340 orang harus bekerja cepat untuk menuntaskan kerja pendataan rumah rusak berat ini dalam waktu yang sangat mepet,” jelasnya.

Masyarakat Lombok Barat Kuat Hadapi Bencana

Gerung, Diskominfo – Momentum Hari Kemdedekaan Republik Indonesia bagi Kabupaten Lombok Barat yang sebagian warganya mengalami musibah gempa bumi dimaknai sebagai perjuangan dan tahan uji. Masyarakat Lombok Barat sangat kuat menghadapi bencana. Demikian diungkapkan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid ketika ditanya wartawan seusai menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari  Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia di Bencingan Agung Kantor Bupati tersebut, Jumat (17/8/2018).

Momentum hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini menjadikan masyarakat lebih tanah uji dalam mengisi kemerdekaan yang dicita-citakan para pejuang kemerdekaan. 73 tahun kemerdekaan Republik Indonesia telah menunjukan kemajuan diberbagai bidang pembangunan termasuk di Kabuapten Lombok Barat. Walaupun Lombok Barat dilanda bencana gempa bumi yang meluluhlantahkan rumah-rumah warganya, namun warga masyarakat lombok barat tetap kuat menghadapinya.

“mudah-mudahan lebih dewasa, lebih bisa maju lagi, lebih bisa menjaga persatuan dan kesatuan untuk bersama bergerak. konteknya pada saat sekarang kita ditimpa gempa, saya kira bangsa Indonesia terbukti kuat, kuat menghadapi bencana ini untuk kembali bangkit menyongsong masa depan yang lebih cerah.” ungkapnya.

Fauzan Khalid berharap kepada masyarakat yang tertimpa musibah gempa bumi dengan momontum Hari Kemerdekaan RI ke 73 Tahun 2018 ini berupaya bangkit kembali bersama pemerintah mengisi kemerdekaan dengan lebih baik.

Ditempat yang sama Ketua DPRD Lombok Barat Imam Kafali juga memaknai hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 Tahun 2018 ini penuh cobaan dan ujian. Karenanya pelaksanaan peringatan HUT Kemerdekaan dilaksanakan dengan sederhana tidak sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Saat ini lebih pemerintah fokus untuk menangani korban bencana gempa bumi yang melanda masyarakat Lombok Barat.

“dilakukan sedehrana, tidak ada lomba-lomba dan kegiatan menyemarakkan lainnya, walaupun sebelumnya telah diprogramkan.” Ungkapnya.

Imam Kafali berjanji tahun tahun mendatang akan menyemarakkan Hari Kemderdekaan dengan lebih baik, lebih banyak kegiatan yang meningkatkan semangat untuk mengisi kemerdekaan. Lebih-lebih akan berlangsungnya Pemilihan Umum Presiden-Wakil Presiden dan Pemilihan Umum Legislatif. Diskominfo/rasidibragi

Upacara Hut Ri Tetap Hidmat Ditengah Bencana Gempa Bumi Melanda Lombok Barat

Gerung, Diskominfo – Upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 tanggal 17 Agustus 2018 di Lapangan Kantor Bupati Lombok Barat berjalan hidmat walau Kabuapten Lombok Barat sedang dilanda gempa bumi 7,0 SR dan 6,2 SR beberapa waktu lalu.  Pelaksanaan upacara sejak sejak ditekannya tombol sirene sebagai peringatan detik detik peringatan HUT RI ke 73 hingga pengibaran bendera merah putih berjalan sebagaimana yang direncanakan. Seluruh peserta upacara mengikuti setiap rangkaian acara diikuti dengan hidmat, rapi dan teratur sehingga acara berjalan lancar.

Pengamatan di lapangan menggarbarkan peringatan HUT RI tahun ini dilaksanakan dengan sederhana namun penuh dengan rasa dan makna perjuangan kemerdekaan Republik Indonesai. Inspektur upacara yaitu Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid memberikan perintah dengan lantang terhadap petugas-petugas upacara.

Demikian juga Ketua DPRD Lombok Barat H. Imam Kafali  yang mengucapkan teks Proklamasi Kemerdekaan dibacakan dengan lantang.

“Proklamasi, kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia,” demikian kutipan teks proklamasi yang dibacakann Imam Kafali.

Inspektur upacara ketika mengheningkan cipta diucapkan dengan penuh haru diikuti oleh seluruh peserta upacara dengan hidmad dan menundukkan kepala sembari berdoa untuk mengenang para pahlawan proklamasi kemerdekaan.

“untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa, mengheningkan cipta mulai,” Ucap Fauzan Khalid.

Sementara yang tidak kalah memukau adalah penampilan dari Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih atau yang dikenal dengan nama Paskibra. Sejak pasukan tersebut melangkahkan kakinya dengan gegap gempita telah menarik perhatian peserta upacara. Terlebih ketika membuat formasi barisan berbentuk angka 73 sebagai tanda peringatan HUT RI ke 73.  Anggota Paskibra melaksanakan kegiatannya dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan standar dan pedoman yang diberikan.

Ketika bendera dikibarkan yang diiringi dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, seluruh peserta upacara baik yang dilapangan maupun di balkon Bencingan Agung Kantor Bupati Lombok Barat mengangkat tangannya, pertanda memberikan pengharomatan kepada bendera sang merah putih.

Seluruh rangkaian upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Kabupaten Lombok Barat telah selesai dengan hidmad dan semarak. Meninggalkan makna perjuangan terlebih lagi saat sebagian masyarakat Kabupaten Lombok Barat menderita rumahnya runtuh, rubuh, rata dengan tanah. Tidak kurang dari 54.497 rumah rusak, 979 unit fasilitas umum rusak, 959 luka-luka, 45 orang meninggal dunia dan 220.904 orang mengungsi akibat gempa itu. Kominfo/rasidibragi

PANGDAM TURUNKAN 3 PLETON BERSIHKAN PUING

Giri Menang, Sabtu 18 Agustus 2018 – Panglima Kodam IX Udayana, Mayjen TNI Beny Susianto, S.IK didampingi oleh Asisten teritorial Kolonel Kadek Subawa dan Asisten Operasional Kolonel Yana mendadak berkunjung ke Dusun Dasan Geria Selatan, Desa Dasan Geria Kecamatan Lingsar Lombok Barat (Lobar), Sabtu (18/8).

Beny berkunjung untuk menyaksikan langsung kerusakan di dusun yang berpenduduk lebih dari 580 jiwa.

Bila disaksikan dari jalan raya, dusun ini nampak tidak banyak mengalami kerusakan. Namun ketika Beny bersama anak buahnya diajak masuk kampung, Beny pun terperangah. Nampak banyak rumah hancur tidak berbentuk. 151 rumah rusak berat, sisanya rusak sedang.

Dengan didampingi Camat Lingsar Rusditah dan Mayor R. Sugondo dari Dandim 1606 Lobar, Beny menemui warga yang sudah mulai membersihkan puing-puing rumahnya.

“Kita akan bantu dengan menurunkan 3 pleton untuk membantu warga,” ungkap Beny.

Tiga pleton yang dimaksud adalah satu pleton dari Marinir, satu pleton dari Brimob Detasemen A Polri yang bermarkas di Bima, dan satu pleton perbantuan dari Satuan 615 Divisi 2 Komando Strategis AD (Kostrad) Malang.

Sambil menyaksikan warga yang bergotong royong, Beny meminta agar rumah-rumah tersebut segera didata dan diverifikasi tingkat kerusakannya.

“TNI tidak bisa bekerja maksimal sehingga masyrakat harus bekerja sama dengan TNI. TNI akan membantu melakukan perusakan dan pembersihan,” janji Beny menjelaskan bahwa pemerintah pasti membantu warga sesuai prosedur.

Desa Dasan Geria ini terdampak cukup parah. Khususnya dua dusun, yaitu Dusun Dasan Geria Selatan dan Dusun Murpeji. Secara keseluruhan rumah di Desa Dasan Geria, rumah yang mengalami kerusakan sebanyak 844 rumah.

Kepala Desa Dasan Geria, M. Nawa Kumtaresa menyambut baik uluran tangan TNI.

“Kita sudah siap lahan untuk membuang material bangunan. Semoga proses pembersihan ini bisa cepat,” pungkas Nawa yang mentargetkan proses bisa berlangsung selama seminggu. (HUMAS LOBAR)

NARMADA SULIT BUANG MATERIAL GEMPA

Giri Menang, Jum’at 17 Agustus 2018 – Kerusakan akibat gempa yang melanda tanggal 5 dan 9 Agustus 2018 lalu menyisakan banyaknya bangunan yang rusak.

Tercatat menurut data terbaru Pos Utama Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Kabupaten Lombok Barat (Lobar) per hari ini (17/8), sebanyak 54.497 rumah rusak dengan kategori rusak berat 21.237 unit, rusak sedang sebanyak 14.547 unit, dan rusak ringan 18.713 unit.

Besarnya tingkat kerusakan terutama untuk rusak berat dan sedang, akhir-akhir ini menjadi materi pokok perencanaan oleh Pos Utama untuk segera dibersihkan.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Lobar ditugaskan membantu Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) untuk menyediakan alat berat yang akan dipergunakan untuk membersihkan puing-puing bangunan tersebut.

Untuk itu, dalam Rapat Evaluasi (15/8) kemarin, Sekretaris Daerah Lobar selaku Kepala BPBD Lobar, H. Moh. Taufiq mengarahkan untuk segera mendapatkan lahan yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi area pembuangan material afkiran rumah-rumah yang hancur itu.

“Segera buat perencanaan lokasi sehingga alat berat bila sudah siap bisa langsung dikerahkan. Sesudah itu kita langsung pada tahap penyiapan Hunian Sementara (Huntara),” ujar Taufiq kepada seluruh Koordinator Wilayah di 4 kecamatan terdampak gempa.

Sehari setelah rapat tersebut, Pos Utama mencatat satu kecamatan yang kesulitan menemukan lahan tersebut.

“Kecamatan Narmada kesulitan mendapatkan tempat pembuangan puing-puing,” ujar Koordinator Tanggap Darurat wilayah Kecamatan Narmada, H. Isnanto Karyawan.

Pria yang sehari-hari menjabat sebagai Sekretaris DPRD Lobar mengaku sudah menghubungi seluruh Kepala Desa se Kecamatan itu untuk mencari area yang dimaksud.

Mendengar hal itu, Taufiq tetap ingin mempercepat pembersihan puing-puing dengan mendahulukan kecamatan yang telah siap lahan.

Untuk diketahui, jumlah rumah rusak berat di Kecamatan Narmada sebanyak 1.793 dan rusak sedang sebanyak 3.026.

Kerusakan rumah terbanyak justru terjadi di Kecamatan Gunung Sari, yaitu sebanyak 10.893 rumah rusak berat, 2.366 rusak sedang, dan 2.437 rumah rusak ringan.

Sampai dengan hari ini (17/08) Pos Utama Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Kab. Lobar mencatat 44 orang meninggal dunia, 258 orang luka berat, dan 701 orang mengalami luka ringan.

Sejak rilis terakhirnya (15/8), Pos Utama memperbaharui data dengan adanya tambahan korban jiwa. Mereka rata-rata terdata setelah diverifikasi oleh pos wilayah yang memastikan mereka meninggal akibat gempa.

Empat nama terakhir yang terlaporkan adalah Qadariyah dari Desa Jati Sela Gunung Sari, Made Raditya dari Desa Golong Narmada, Muhammad Juni dari Desa Suka Makmur Gerung, dan Rinaseh dari Desa Sigerongan Lingsar. Mereka menambah jumlah korban jiwa dari 40 menjadi 44 orang hanya dalam kurun waktu 2 hari.

Banyak pihak mulai khawatir dengan kondisi pengungsian yang semakin mengkhawatirkan. Terutama dengan mulainya turun hujan dan suhu yang semakin dingin di malam hari.

Hal ini harus menjadi perhatian Pemkab Lobar, terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada 220.904 orang pengungsi yang terpencar di seluruh kantong pengungsian. Jangan sampai ada jatuh korban jiwa lagi justru karena minimnya pelayanan kesehatan bagi para pengungsi.

TIDAK CUMA MEMADAMKAN TAPI JUGA MENYUPLAI AIR BERSIH

Giri Menang, Jum’at 17 Agustus 2018 – Bencana gempa bumi yang menghantam Pulau Lombok sejak akhir Juli lalu terjadi berbarengan dengan puncak musim kemarau.

Akibatnya, sumur dan mata air milik warga menjadi kekeringan sehingga warga sulit mendapatkan air bersih untuk aneka keperluannya.

Dinas Pemadam Kebakaran (DKP) Lombok Barat (Lobar) menyambut kondisi itu dengan cepat melakukan pendistribusian air bersih ke kantong-kantong kekeringan dan pusat-pusat pengungsian di Lobar.

Seperti yang mereka lakukan di Desa Tempos Kecamatan Gerung, Kamis (16/8) kemarin. DPK mendrop 1 tangki dengan kapasitas 5.000 liter.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Penyelamatan yang sekaligus menjadi Pelaksana Harian Kepala DPK, Lalu Adiwijaya menyatakan, “penyaluran air bersih kami lakukan berdasarkan permintaan mereka. Kita sudah melakukan droping air bersih 3 kali selama bulan Agustus ini,” ujar Adiwijaya yang memastikan minimal droping ke satu titiknya sebanyak 5.000 liter, kadang bisa 10.000 liter atau dua tangki mobil.

DPK tambah Adi, semakin sibuk pasca bencana gempa bumi. Akibat gempa 7,0 Skala Richter itu, jaringan PDAM rusak yang membuat airnya keruh dan tidak layak konsumsi. Air sumur warga pun terimbas hal yang sama.

DPK menurut Adi pun menyuplai air bersih di wilayah lain yang terkena dampak gempa tersebut.

“Di Kecamatan Lingsar, ada tiga desa juga mengalami krisis air bersih. Jaringan PDAM di Kecamatan Lingsar putus akibat gempa sehingga berdampak buat tiga desa yaitu Desa Langko, Desa Duman, dan Desa Giri Madia sehingga mengalami krisis air bersih,” tuturnya.

Kepala Seksi Operasi Penyelamatan dan Investigasi, Lalu Satriawan menambahkan, “Di sela-sela kesibukan menghadapi kekeringan, kami pun diminta mendukung penyediaan air bersih di posko-posko pengungsi,” tuturnya.

Dalam masa tanggap darurat bencana gempa ini, DPK menjadi unit kerja yang sangat strategis untuk membantu warga di pengungsian. Tidak hanya karena memiliki kendaraan operasional, namun karena memiliki instalasi sumur bor.

Mereka tidak hanya mendukung unit lain seperti Palang Merah Indonesia, PDAM Giri Menang, dan Dinas Sosial, DPK pun ikut menyediakan air bersih buat water canon milik Polres Lobar dalam penyediaan air bersih.

Tidak hanya itu, mereka juga mengevakuasi warga dari area tempat tinggalnya ke Posko Pengungsian.

Seperti diceritakan oleh Lalu Satriawan, mereka terpaksa mengevakuasi warga yang ada di Dusun Penangggak Desa Batulayar.

“Tempatnya sangat sulit dijangkau sehingga mereka kita arahkan untuk sementara tinggal di posko pengungsian,” kata Satriawan.

Para pengungsi yang dievakuasi ini berjumlah belasan Kepala Keluarga. Pihak DPK mengarahkan mereka untuk turun ke pos pengungsian agar mudah mendapat bantuan.

“Medan menuju dusun ini berat. Sulit buat relawan dan Pemerintah untuk menyalurkan bantuan,” pungkas Satriawan.

Walau DPK diperbantukan untuk menyuplai air bersih, Adiwijaya memastikan unit kerjanya tetap menyiagakan kendaraan operasi pemadaman bila ada kebakaran.

“Kita harus tetap standby. Jangan sampai saat terjadi kebakaran, kita tidak merespon dengan cepat,” pungkas Adi menuturkan kebakaran yang terjadi di Desa Bengkel saat tanggap darurat bencana gempa bumi baru berjalan dua hari (7/8).(HUMAS LOBAR)

DIKUNJUNGI BUPATI, PENGUNGSI SESELA KEGIRANGAN

Giri Menang, Jum’at 17 Agustus 2018 – Usai melaksanakan shalat Jum’at di kamp pengungsi Desa Kekait, Bupati H. Fauzan Khalid langsung meluncur ke Desa Sesela. Desa ini termasuk yang terkena dampak bencana gempa. Sejumlah titik kamp pengungsi berdiri di tempat ini.

Salah satu kamp yang dikunjungi adalah kamp pengungsi yang berdekatan dengan kuburan umum Sesela. Di kamp ini puluhan tenda besar kecil berdiri yang dihuni ratusan warga.

Begitu turun dari kendaraan, tanpa komando anak-anak kecil pada berhamburan menyalami Bupati Fauzan. Perjalanan menuju kamp agak tersendat karena anak-anak yang antusias bersalaman ini. Saat berjalan menuju kamp, anak-anak inipun seakan mengawal Bupati.

Di areal kamp sendiri, begitu mengetahui kedatangan Bupati, seisi kamp pada keluar berhamburan. Inaq-inaq amaq-amaq tua muda remaja dewasa langsung mengerubungi tempat Bupati duduk. Bupati sendiri duduk sebentar, lalu lebih memilih berdiri menyapa warga.

“Maraq idap te jari penganten lamun te tokol (rasanya kayak jadi pengantin kalau duduk),” ujarnya sembari langsung berdiri.

Warga maupun Bupati bercengkrama dengan santainya. Inaq-inaq tanpa merasa canggung bercakap-cakap dengan Fauzan. Mereka menyampaikan berbagai hal terkait kondisinya di pengungsian.

“Saya mohon maaf baru bisa datang sekarang karena banyaknya yang dikunjungi. Di Lombok Barat ada 4.000-an tempat pengungsian yang harus saya kunjungi,” ujarnya.

Fauzan berjanji sore ini atau paling telat besok pagi akan membawakan terpal, selimut, tikar dan kebutuhan bayi. Ia berpesan kalau nanti barang-barang yang dibawa itu kurang, agar diprioritaskan untuk diberikan kepada orang-orang tua dan anak kecil.

“Utamakan mereka, karena mereka lebih membutuhkan dari pada kita,” pesan Bupati.

Bupati juga berharap agar rasa trauma bisa hilang. Apalagi saat ini sudah tidak berbahaya lagi seperti hari-hari sebelumnya. Kalaupun terjadi gempa, biasanya kecil. Untuk itu Bupati menghimbau agar kembali ke rumah, kecuali yang rumahnya rusak berat.

“Saya juga 12 hari ngungsi. Tapi sekarang sudah normal sehingga saya berani kembali masuk rumah. Jadi yang rumahnya masih bagus, silahkan pulang tapi harus waspada dan hati-hati,” pintanya.

Ditambahkan, saat ini Pemkab Lobar sedang mendata jumlah kerusakan. Nantinya yang rusak berat akan dapat Rp 50 juta, rusak sedang Rp 25 juta, dan ringan Rp 10 juta.
Uang ini akan masuk ke rekening warga tapi belum bisa dicairkan sebelum ada tanda tangan Bupati.

“Kenapa demikian? Karena tujuannya untuk kembali bangun rumah. Pemerintah khawatir ntar dikasih uang justru dipakai beli hp,” seloroh Fauzan.

Saat akan pulang, Fauzan kembali diminta oleh sejumlah inaq-inaq agar mau melihat kamp mereka yang letaknya masih di lapangan yang sama. Bupati Fauzan akhirnya menuruti kemauan inaq-inaq ini. Dan sesampainya di kamp tersebut, inaq-inaq ini menjelaskan kepada Bupati Fauzan bahwa meski kamp mereka berada satu lapangan, namun berasal dari dusun berbeda.

“Yang di sana tadi itu pengungsi dari Sesela Desa, yang ini dari kebon lauq. Nanti bantuannya kasih ke kami juga supaya kami juga dapat,” ujarnya.

Bupati Fauzan kemudian langsung memanggil Camat Gunungsari H. Rusni dan berpesan agar nantinya membagikan bantuan tersebut secara merata. (afgan/humas)

FAUZAN : MARI MUHASABAH DAN TATAP MASA DEPAN

Giri Menang, Jum’at 17 Agustus 2018 – Bupati Lobar H. Fauzan Khalid siang ini (17/8) melaksanakan shalat Jum’at bersama warga Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari. Shalat Jumat ini sendiri dilaksanakan di areal sawah tempat tenda pengungsian didirikan.

Meski kondisi masjid darurat beratapkan terpal dan beralaskan besek, namun jamaah tetap khidmat mengikuti shalat Jum’at hingga usai.

Fauzan sendiri saat itu langsung bertindak sebagai khatib. Dalam khutbahnya dua hal yang ia pesan kepada jama’ah. Pertama, muhasabah, dan yang kedua menatap masa depan.

Di momen bencana ini, katanya, kita harus melakukan muhasabah atau introspeksi diri. “Mungkin selama ini kita pernah menyinggung perasaan saudara kita,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Bupati Fauzan, mungkin selama ini manusia telah banyak merusak alam sehingga keseimbangan alam menjadi terganggu sehingga terjadilah bencana.

“Untuk itu mari kita muhasabah diri dan juga bersama-sama menjaga kelestarian alam,” pesannya.

Hal kedua yang disampaikan adalah agar masyarakat menatap kedepan. Bencana yang melanda saat ini merupakan ujian. Ujian dibuat oleh Allah agar kita bisa naik kelas dan naik tingkat. Ibarat emas, tidak mungkin jadi emas tanpa dibakar terlebih dahulu. Begitu pula dengan orang-orang yang beriman.

“Jadi alangkah ruginya kita apabila musibah yang berat dan memakan korban ini tidak sampai membuat derajat kita naik,” katanya.

Untuk itu Bupati Fauzan berharap agar masyarakat senantiasa melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. (afgan/humas)

1 2 3 4 178