HOTEL TERTINGGI DI NTB AKAN DIBANGUN DI KAWASAN SENGGIGI
Pasca disetujuinya rencana pembangunan Aston Senggigi oleh Bupati Lombok Barat pada ekspose yang dilakukan oleh Group PT. Sentul City Tbk., pada hari Jumat (14/6) yang lalu. Kawasan wisata Senggigi akan...
Festival Senggigi 2013
Melalui Festival Senggigi Kita Wujudkan Lombok Barat Menjadi Gerbang Pariwisata Nasional SharePencarian Kehalaman Ini:logo festival senggigi 2013 kabupaten lombok barat (2) Read More →
Bupati Zaini Arony Ajak Main Keroyokan
Peletakan Batu Pertama Kantor Desa Lembar Selatan Giri menang – `Ada-ada saja` nampaknya merupakan ucapan yang tepat untuk diletakkan di belakang kata `Bupati Zaini`, hingga menjadi `Bupati Zaini ada-ada...
Ke Sekotong, Bupati Beri Bantuan 200 Ekor Sapi
Giri Menang – Jumat (31/5) kemarin, Bupati Lombok Barat (Lobar), Dr. H. Zaini Arony didampingi beberapa kepala SKPD menyerahkan 200 ekor sapi untuk empat kelompok tani ternak di Sekotong masing-masing...
Yuni Hari Seni, Kades Wanita di Lobar
Giri Menang – Pelantikan Kepala Desa (Kades) di Narmada sering diwarnai dengan keunikan. Bila 3 bulan sebelumnya (27/2), atas nama Bupati Lombok Barat, Dr. H. Zaini Arony, Camat Narmada, Abdul Manan,...
Akhirnya Pemkab Lobar Serahkan Aset ke Pemkab KLU
Setelah terkatung-katung selama belasan kali pertemuan, namun pertemuan itu tidak menemukan kesepakatan, karena antara pemkab.Lombok Barat (Lobar) dengan Pemkab Lombok Urata (KLU), saling tarik ulur,...|
Sebagai Gubernur NTB Periode 2013 – 2018 dan HM. AMIN, SH., MH Sebagai Wakil Gubernur NTB Periode 2013 – 2018 Sesuai hasil Pleno KPU NTB pada hari Kamis, 23 Mei 2013 |
Kesehatan
Peningkatan derajat kesehatan masyarakat adalah tujuan pokok dari pembangunan kesehatan di Kabupaten Lombok Barat. Peningkatan tersebut ditandai dengan penurunan angka kematian dan kesakitan sehingga masyarakat akan menjadi lebih sehat dan produktif.
Untuk memperoleh uraian tentang indikator komposit IPM, diperlukan indikator lain yaitu IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) yang merupakan indikator komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan, dirumuskan dari data kesehatan berbasis komunitas yaitu: Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar), Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional),Survei Podes (Potensi Desa)
IPKM merupakan indeks komposit yang dirumuskan dari 24 indikator kesehatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat, dimana menurut hasil Riskesdas 2007 Kabupaten Lombok Barat menduduki rangking 296 dari 440 kabupaten se Indonesia, dan masuk kategori Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Dari 24 indikator tersebut, paling dominan adalah indikator tentang gizi dan KIA. Untuk meningkatkan rangking pada tahun mendatang, Lombok Barat mentargetkan upaya untuk keluar dari kategori daerah bermasalah kesehatan tersebut pada tahun 2013.
Penggunaan indikator ini telah disahkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1798/MENKES/SK/XII/2010 Tentang Pedoman Pemberlakuan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Berikut tabel indikator IPKM dan kondisi Lombok Barat berdasarkan hasil RISKESDAS 2007.
Tabel Indikator IPKM Berdasarkan RISKESDAS 2007| VARIABEL | INDIKATOR | BOBOT | Kondisi Lobar 2007 |
| Prev. Balita gizi buruk dan kurang | Mutlak | 5 | 27,59 |
| Prev. Balita sangat pendek dan pendek | Mutlak | 5 | 41,74 |
| Prev. Balita sangat kurus dan kurus | Mutlak | 5 | 17,62 |
| Akses air bersih | Mutlak | 5 | 70,52 |
| Akses sanitasi | Mutlak | 5 | 21,67 |
| Cakupan penimbangan balita | Mutlak | 5 | 45,09 |
| Cakupan pemeriksaan neonatal 1 | Mutlak | 5 | 63,33 |
| Cakupan imunisasi lengkap | Mutlak | 5 | 22,71 |
| Rasio dokter/ puskesmas | Mutlak | 5 | 1,25 |
| Rasio bidan/ desa | Mutlak | 5 | 1,21 |
| Cakupan persalinan oleh nakes | Mutlak | 5 | 76,45 |
| Balita gemuk | Penting | 4 | 13,59 |
| Diare | Penting | 4 | 18,93 |
| Hipertensi | Penting | 4 | 29,52 |
| VARIABEL | INDIKATOR | BOBOT | Kondisi Lobar 2007 |
| Pneumonia | Penting | 4 | 1,89 |
| Proporsi perilaku cuci tangan | Penting | 4 | 13,08 |
| Prevalensi gangguan mental | Perlu | 3 | 14,73 |
| Proporsi merokok tiap hari | Perlu | 3 | 28,52 |
| Prevalensi penyakit gigi dan mulut | Perlu | 3 | 36,02 |
| Prevalensi asma | Perlu | 3 | 4,88 |
| Prevalensi disabilitas | Perlu | 3 | 25,41 |
| Prevalensi cedera | Perlu | 3 | 13,02 |
| Prevalensi penyakit sendi | Perlu | 3 | 44,83 |
| Prevalensi ISPA | Perlu | 3 | 30,14 |
| IPKM | 0,462781 |
A. Angka Kematian
Untuk mencapai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang baik maka harus memperhatikan Umur Harapan Hidup (UHH) masyarakat karena UHH menggambarkan tingkat derajat kesehatan masyarakatnya. Tahun 2007, UHH Kabupaten Lombok Barat mencapai 59,54 dan IPM Lombok Barat 59,34. UHH yang tinggi berarti warga masyarakat mendapatkan jaminan hidup yang lebih baik. Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap resiko kesakitan dan kematian sehingga harus mendapatkan perhatian yang serius adalah Bayi, Ibu bayi dan Balita. Ukuran-ukuran yang digunakan untuk menilainya adalah Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu dan prevalensi gizi buruk pada Balita.
Berdasarkan laporan surveilans, jumlah kematian bayi dan ibu di Kabupaten Lombok Barat dari tahun 2009 hingga tahun 2011 menunjukan penurunan. Tahun 2009 jumlah kematian bayi adalah 201 , tahun 2010 sebanyak 161 orang dan tahun 2011 menurun menjadi 144 bayi. Sedangkan untuk kematian ibu tahun 2009, 18 orang, tahun 2010 turun menjadi 17 orang demikian pula tahun 2011 turun menjadi 12 ibu. Dari 12 ibu tersebut, 8 diantaranya meninggal saat kondisi nifas (setelah bersalin) 2 pada saat hamil, dan 2 pada saat persalinan
Berbicara angka kematian, tentunya angka-angka ini akan berbeda jumlahnya dengan yang dilaporkan oleh BPS yang didasarkan pada hasil survey karena angka dalam profil adalah jumlah kejadian kasus kematian yang tercatat dan dilaporkan oleh puskesmas dan jaringannya termasuk swasta dengan mekanisme Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).
Grafik 1. Trend Kematian Bayi Tahun 2009 – 2011 di Kabupten Lombok Barat
Dari grafik 1. di atas menunjukkan bahwa jumlah kematian bayi menurun secara signifikan. Tahun 2010 menurun sebesar 20 persen dan pada tahun 2011 menurun lagi sebesar 10,6 persen. Jika dikalkulasikan menurut hitungan per 1000 bayi lahir hidup maka kita akan dapatkan data yang sangat rendah. Angka kematian bayi sementara pada tahun 2009 adalah 17 per 1000 kelahiran penduduk dan pada tahun 2010 turun menjadi hanya 12,44 per 1000 kelahiran hidup. Angka-angka ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan hasil yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Target AKB untuk tahun 2011 dalam RPJMD adalah 27 per 1.000 kelahiran hidup. Perlu menjadi catatan bahwa angka terlapor yang tertera dalam profil ini tidak dapat langsung dibandingkan kepada target RPJMD tersebut, karena bukan merupakan angka resmi dari BPS.
Grafik 2. Trend Kematian Ibu Tahun 2009 sampai dengan 2011
Sumber : Profil Kesehatan 2009, 2010, 2011
Grafik 3. Penyebab kematian bayi (0 hari – < 1th) tahun 2011
Sumber : Laporan Kegiatan Neonatal dan Bayi (29 hari – 1 Tahun) Kab.Lobar Tahun 2011Grafik di atas memperlihatkan dengan jelas bahwa penyebab kematian bayi paling besar adalah BBLR (berat bayi lahir rendah) yaitu sebanyak 37 % meskipun kondisinya menurun dari tahun 2010 lalu (43%). BBLR ini terjadi pada usia bayi 0 sampai 28 hari, selanjutnya Asfiksia sebanyak 28 kasus (19%) Penyebab kematian ketiga yaitu cacat bawaan sebanyak 16 kasus, kemudian ISPA/Penumonia 13 kasus (9 %) dan dilaporkan terjadi pada bayi usia 29 hari sampai < 12 bln. Untuk kasus lain-lain, mencapai 30 kasus tercata untuk bayi 0 – 12 bln. BBLR bisa terjadi karena kurangnya asupan gizi pada saat bayi masih didalam kandungan sehingga hal ini berhubungan dengan kesehatan ibu hamil. Kematian neonatus adalah kematian pada bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari. Tercatat untuk kematian neonatus sebanyak 110 kasus, dan 95 diantaranya meninggal pada usia 0 -7 hari. Kondisi ini dikenal sebagai fenomena 2/3 kematian bayi.
Untuk mengatasi permasalahan ini perlu ditingkatkan kualitas kegiatan kunjungan neonatus yang dalam kebijakan program dilaksanakan sampai 3 kali selama usia neonatal (0 – 28 hari).
Sedangkan untuk upaya penurunan kematian bayi yang disebabkan oleh BBLR dilakukan terobosan dengan meningkatkan asupan gizi dan pengetahuan ibu hamil yaitu dengan memberikan multivitamin pada ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronis) serta dengan melaksanakan kelas ibu dan kelas gizi bagi ibu hamil tersebut.
Kematian bayi akibat ISPA atau pneumonia disebabkan karena banyak faktor yaitu karena lingkungan yang tidak sehat, dan untuk masyarakat yang belum berperilaku hidup bersih dan sehat. Keduanya memberikan kontribusi yang cukup tinggi karena pneumonia merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan, jika lingkungan tidak dijaga kebersihannya maka penyakit berbasis lingkungan juga semakin meningkat. Penatalaksanaan kasus yang tepat sangat dibutuhkan dalam penanganan kasus pneumonia ini karena itu program MTBS dan MTBM (Manajemen Terpadu Balita Sakit dan Manajemen Terpadu Bayi Muda) perlu dilaksanakan secara optimal agar penemuan kasus bayi dengan pneumonia dapat segera ditangani.
Grafik 4. Tren penyebab kematin ibu tahun 2009 – 2011 di Kabupaten Lombok Barat Sumber : Laporan Kegiatan Maternal Kab. LOBAR Tahun 2009,2010,2011Berdasarkan grafik diatas, penyebab kematian ibu kontributornya paling tinggi tahun ini disebabkan karena eklamsia/pre eklamsie yaitu sebanyak 50 % (6 kasus). Penyebab lain sebanyk 4 kasus, perdarahan 1 kasus dan infeksi 1 kasus.
Berbagai faktor yang mempengaruhi penyebab kematian tersebut, antara lain masih banyaknya bumil dengan anemia yang disebabkan rendahnya konsumsi Fe, terlambatnya pengambilan keputusan ke tempat pelayanan kesehatan, terlambatnya transportasi ke tempat pelayanan, terlambatnya penangangan di tempat pelayanan kesehatan dan karena belum tersedianya darah yang cukup. Padahal telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasinya, misalnya dengan kebijakan desa siaga dimana salah satu kegiatannya adalah cepat tanggap terhadap ibu melahirkan dan menyiapkan pendonor darah didesa tersebut. Konsep desa siaga yang juga termasuk untuk siaga persalinan, dimana diharapkan ada kontribusi dari desa masalah angkutan sebagai ambulan desa cukup membantu masyarakat dalam mengantarkan ibu hamil dan melahirkan ke lokasi pelayanan kesehatan. Hal ini menyebabkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten cukup meningkat dari cakupan tahun sebelumnya.
B. Angka Kesakitan
Angka kesakitan yang dapat dilaporkan adalah sebagai berikut :
1. AFP non Polio <15 tahun
AFP (acute flacid paralise) rate non polio pada penduduk berusia <15 tahun adalah jumlah kasus AFP non polio yang dilaporkan dibagi jumlah penduduk usia < 15 tahun dikalikan seratus ribu. Target dalam SPM adalah ≤ 2 per 100.000. Pada tahun 2011 ini, Kabupaten Lombok Barat masih berada pada 7,12 per 100.000 usia < 15 tahun, jadi masih cukup tinggi. Untuk tahun 2009 saja ditemukan sebanyak 3 orang suspect AFP, tahun 2010 meningkat sebanyak 10 kasus suspect, sedangkan tahun 2011 dilaporkan 13 kasus suspect. Peningkatan penemuan suspect kasus ini disebabkan karena sisem surveilans AFP Rumah Sakit (hospital based sueveilans / HBS) dan sistem surveilans AFP Masyarakat, (Community based surveilans system /CBS) sudah berjalan dengan baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sedangkan tujuan penemuan kasus AFP antara lain :
- Melacak dan menemukan semua kasus AFP yang ada disuatu daerah
- Mengumpulkan dua spesimen semua kasus AFP selambat-lambatnya 14 hari setelah kelumpuhan, dengan tenggang waktu pengumpulan spesimen I dan II adalah 24 jam.
- Mengidentifikasikan kemungkinan adanya virus-polio liar disuatu wilayah melalui pemeriksaan spesimen tinja semua kasus AFP yang ditemukan dalam wilayah tersebut.
2. Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit endemis disebagian besar wilayah Indonesia atau wilayah tropis dengan sumber penularan manusia dan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektornya.
Target yang diharapkan dalam penanganan DBD adalah pada upaya mencegah kematian, menekan penyebaran kasus dan penanganan secara keseluruhan penderita DBD.
Pada tahun 2009 di Kabupaten Lombok Barat jumlah kasus demam berdarah yang terlaporkan sebanyak 79 orang dan semua tertangani baik di puskesmas maupun di rumah sakit. Tahun 2010 kasus DBD dilaporkan sebanyak 154 kasus yang tersebar di semua wilayah puskesmas. Sedangkan tahun 2011 ini sebanyak 60 kasus, dan dilaporkan 3 orang meninggal yaitu di wilayah kerja Puskesmas Penimbung, Narmada dan Lingsar. Jumlah kasus tertinggi tahun 2011 ini terdapat di Puskesmas Gunung Sari (44 kasus), kemudian Puskesmas Kediri (6 kasus), dan Puskesmas Narmada (4 kasus). Dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 61 %.
3. Kasus Diare yang ditangani
Diare adalah buang air besar lembek, cair bahkan seperti air yang frekwensinya lebih sering dari biasanya, pada umumnya 3 kali atau lebih dalam sehari.
Kasus diare biasanya terjadi peningkatan pada musim kemarau disebabkan karena terbatasnya air bersih dan pada saat bulan pertama musim hujan karena sumber air bersih yang digenangi air hujan atau air tanah permukaan ikut tercemar.
Target cakupan penemuan penderita Diare yaitu 411 per 1000 dikali jumlah penduduk dikali 10 %, dimana :
- Target cakupan penemuan penderita Diare oleh SARKES adalah : 40% dari taget penemuan dan diupayakan tidak ditemukan kematian akibat Diare (CFR = 0 %).
- Target cakupan penemuan penderita Diare oleh Kader Diare adalah : 60% dari target penemuan dan diupayakan tidak ditemukan kematian akibat Diare (CFR = 0 %).
Jumlah kasus diare yang terlaporkan pada tahun 2010 di Kabupaten Lombok Barat sebanyak 23.934 orang dan 100% tertangani, sedangkan target diare tahun 2010 dari rumus yang telah ditetapkan secara nasional untuk Kabupaten Lombok Barat sebanyak 25.875 orang. Penemuan kasus diare pada balita tahun 2011 meningkat menjadi 29.982 kasus atau mengalami peningkatan sebesar 25,27% dari kasus tahun 2010. Kasus ini melebihi dari target perkiraan yaitu 24.659. Peningkatan kasus diare ini menandakan kegiatan surveilance di masyarakat dapat berjalan optimal. Dan tentunya menjadi bahan evaluasi bagi pelaksana program lainnya agar meningkatkan promosi kesehatan tentang hidup bersih dan sehat.
Grafik 5. Jumlah Diare Pada Balita Tahun 2011 di Kabupaten Lombok Barat
Kasus diare terbanyak terdapat di Puskesmas Gerung (gabungan Puskesmas Gerung dan Dasan Tapen) yaitu 3.763 kasus, kemudian Gunungsari dengan jumlah 3.187 kasus, dan terendah pada Puskesmas Pelangan yaitu 723 kasus. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, karena diare bukan hanya karena faktor lingkungan saja namun juga karena perilaku hidup dari masyarakat. Oleh karena itu, dalam penanganannya harus melibatkan program dan lintas sektor yang terkait, agar kasus diare ini tidak terus meningkat.
4. Angka Kesakitan Malaria
Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan di Kabupaten Lombok Barat. Kasus malaria klinis tahun 2011 mencapai 9.190 kasus dengan 566 kasus dinyatakan postif melalui pemeriksaan laboratorium maupun menggunakan RDT. Adapun cakupan pemeriksaan sedian darah tahun 2011 mencapai 100%. Cakupan pengobatan kasus positif malaria dengan menggunakan ACT (Amodiaquine Combination Therapy) sebesar 99% (562 dari 566 kasus positif) sedangkan yang tidak diberikan ACT adalah penderita positif malaria yang hamil pada trimester I.
Pemantauan kasus malaria menggunakan API (Annual Paracyte Incidence) yaitu jumlah kasus positif dalam 1.000 orang penduduk setiap tahun. Kasus malaria positif terbanyak masih ditemukan di daerah kawasan pantai dan pegunungan yaitu wilayah Puskesmas Meninting, Gunung Sari dan Penimbung. Angka kesakitan dihitung berdasarkan standar API (Annual Parasite Incidence ) mencapai angka 2,50. Dengan demikian Kabupaten Lombok Barat berada pada kategori MCI (Moderate Case Insidence) dengan range 1-5.
5. Kusta
5.1. Prevalensi ( Kusta Terdaftar ) target < 1/10.000 penduduk
Prevalensi kusta dalam 2 tahun terakhir ( 2010 dan 2011 ) tidak mengalami perubahan yaitu : 0,2 per 10.000 penduduk dan Kabupaten Lombok Barat sudah termasuk dalam kelompok Low Endemik Kusta ( Prevalensi < 0,5/10.000 penduduk ). Kasus kusta terdaftar per 31 Desember tahun 2011 sebanyak 9 orang tersebar di Puskesmas Gerung ( 6 orang ), Labuapi (1 orang), Perampuan ( 1 orang ), Gunungsari ( 1 orang ). Dengan klasifikasi kusta terdiri dari Pausi Basiler (PB)/ Kusta kering 1 kasus, Multi Basiler (MB)/ Kusta Basah 8 kasus.
5.2. RFT (Release From Treatment) Rate yaitu Penderita Kusta Berhenti Minum Obat dengan target >90%.
RFT Rate PB tahun 2011 adalah 100% yaitu dari 2 orang tipe PB yang berobat pada tahun 2010 dinyatakan RFT 2 orang pada tahun 2011.
RFT Rate MB tahun 2011 adalah 86% yaitu dari 14 orang tipe MB yang berobat pada tahun 2009 dinyatakan RFT sebanyak 12 orang pada tahun 2011.
6. TBC (Tuberculosis)
a. Angka CDR /Case Detection Rate (target >70%)
Angka penjaringan suspek pada tahun 2011 sebanyak 3.861 orang dari perkiraan suspek sebesar 12.592 orang ( 30,7 % dari target > 50 % ), sedangkan angka penemuan kasus TB Paru BTA (+) adalah 551 kasus dari perkiraan sebanyak 1.259 kasus. Dengan demikian angka CDR pada tahun 2011 adalah 43,73 %.
Pencapaian angka CDR ini meningkat cukup tinggi dari Tahun 2010 yaitu 34,77 %. Walaupun demikian, pencapaian tersebut masih jauh dari target CDR secara nasional yaitu menemukan kasus TB Paru BTA ( + ) sebanyak 70% dari perkiraan, sehingga perlu dilakukan analisa lebih lanjut untuk mencari akar permasalahan serta menemukan kegiatan-kegiatan inovatif dalam upaya meningkatkan penemuan kasus TB Paru BTA (+) di masyarakat.
b. Angka kesembuhan (target >85%)
Angka kesembuhan TB Tahun 2011 mencapai 81,11% dimana dari 434 TB Paru BTA (+) yang diobati pada tahun 2010, dinyatakan “sembuh” sebanyak 350 pada Tahun 2011. Angka ini belum mencapai target nasional yaitu : > 85 %, hal ini disebabkan karena banyak penderita TB Paru BTA (+) yang tidak melakukan pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 5 pengobatan ( ab-5 ) dan pada akhir pengobatan (AP), sehingga evaluasinya menjadi Pengobatan Lengkap (38 orang ). Disamping itu juga terdapat penderita yang mengalami default/DO ( 23 orang ), gagal ( 4 orang ), pindah ( 1 orang ) dan meninggal ( 17 orang ).
7. HIV / AIDS
Untuk data HIV dan AIDS merupakan data kumulatif dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2011, dan ini merupakan kebijakan dari propinsi agar mengetahui jumlah secara keseluruhan penderita HIV – AIDS. Kasus baru 2011 di Lombok Barat sebanyak 4 kasus HIV dan 6 kasus baru AIDS. Maka secara kumulatif dilaporkan sampai saat ini di Kabupaten Lombok Barat terdapat 37 orang kasus HIV dan 38 kasus AIDS.
Jumlah kasus HIV-AIDS yang ada di Kabupaten Lombok Barat bagaikan fenomena gunung es yang tampak diidentifikasi sedikit namun dalam kenyataannya di masyarakat terdapat banyak kasus yang belum terdeteksi.
8. Pneumonia Balita Ditangani
Penanganan untuk balita dengan kasus pneumonia adalah 100 % artinya semua balita pneumonia mendapat penanganan yang intensif di puskesmas maupun di rumah sakit.
Pada tahun 2011 kasus pneumonia pada balita ditemukan sebanyak 2.118 orang dan semuanya telah ditangani. Jumlah kasus ini menurun 56,43 % bila dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu 4.862 kasus.
Grafik 6. Grafik kasus Pneumoni Balita pada tahun 2011 di Kabupaten Lombok BaratBerdasarkan tabel diatas, kasus terbesar terjadi di Puskesmas Kediri, Sedau dan Jembatan Kembar. Sedangkan kasus terendah terjadi di Puskesmas Pelangan. Untuk data Puskesmas Dasan Tapen masih menjadi satu dengan data Puskesmas Gerung.
9. Infeksi Menular Seksual (IMS) ditangani
Sebagaimana tahun 2010, tahun 2011 ini data IMS tidak dapat diakses atau diperoleh karena pencatatan dan pelaporan yang kurang optimal baik di level puskesmas maupun kabupaten. Padahal semua puskesmas telah didukung dengan komputerisasi yang telah dilengkapi dengan software SIMPUSLOBAR. Hanya saja pemanfaatannya yang masih kurang optimal. Dengan demikin perlu ditindaklanjuti mengenai entry data dan pemanfaatannya, agar data yang diperoleh dapat digunakan sebagi bahan evaluasi.
Selain itu, kasus IMS ini juga merupakan fenomena gunung es. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh keengganan penderita yang mengalami keluhan pada alat reproduksinya untuk memeriksakan diri ke tempat pelayanan publik seperti puskesmas. Oleh sebab itu sangat mendesak untuk segera melakukan pengumpulan data pada klinik/tempat praktek swasta/pribadi. Data yang lengkap akan menjamin penyusunan program yang lebih baik untuk memberantas penyakit tersebut.
10. Jumlah Kasus Campak
Jumlah kasus campak di Kabupaten Lombok Barat tahun 2011 ini adalah 9 kasus, sedikit menurun dari tahun 2010 yaitu 10 kasus yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Gunungsari 3 orang, Penimbung 5 orang dan Perampuan 2 orang.
11. Jumlah Kasus Polio
Tahun 2011 ini, tidak ada kasus polio di Kabupaten Lombok Barat. Karena semua suspect AFP yang diketemukan ( 13 orang) dinyatakan negatif polio.
12. Jumlah Kasus Hepatitis B
Dari tahun 2008 hingga tahun 2011 lalu tidak ditemukan kasus hepatitis B di Kabupaten Lombok Barat.
B. Status Gizi Masyarkat
1. Kunjungan Neonatus (KN3)
Kunjungan neonatus merupakan kegiatan untuk memantau kondisi kesehatan neonatus sekaligus memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu nifasnya, dimana pelayanan ini dilakukan dirumah oleh bidan. Neonatus adalah bayi berumur 0 sampai 28 hari. Kegiatan ini sangat strategis untuk menurunkan kematian bayi terutama usia 0 -7 hari.
Dari grafik di bawah ini, sebagian besar puskesmas telah mencapai target SPM yaitu 90%, hanya 2 puskesmas saja yang belum mencapai target, namun demikian telah mencapai angka yang cukup tinggi, yaitu puskesmas pelangan dan sekotong. Ini artinya puskesmas telah melakukan kunjungan ke bayi yang baru lahir (neonatus) dengan cukup baik. Namun perlu tetap diwaspadai mengenai kualitas dari kunjungan neonatal ini, mengingat kasus kematian neonatal masih cukup tinggi (110 kasus).
Grafik 7. Persentase Cakupan KN3 tahun 2011 di Kabupaten Lombok Barat
2. Kunjungan Bayi
Salah satu upaya kesehatan untuk menekan kematian bayi adalah dengan melakukan kunjungan bayi. Sejak tahun 2008 sudah mulai tercatat kunjungan bayi sampai 4 kali, dengan hasil sebagai berikut.
Grafik 8. Persentase kunjungan bayi tahun 2011 menurut Puskesmas di Kabupaten Lombok Barat3. Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Kasus BBLR pada tahun 2011 relatif menurun yaitu dari 4,53 di tahun 2010, menjadi di 4,1. Dari jumlah kasus sebanyak 543 yang lahir dengan BBLR, meninggal 53 bayi. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus mengingat kematian bayi usia 0 sampai 28 hari (neonatus) paling banyak disebabkan oleh BBLR. Tentunya untuk penanganannya diperlukan kerjasama antar program yang terkait seperti gizi, promkes dan KIA. Ibu yang melahirkan anak dengan BBLR, salah satunya karena kasus KEK (Kurang Energi dan Kalori) atau juga dengan anemia. Maka perlu dilakukan penyuluhan dan perubahan perilaku makan si ibu. Namun, tidak menutup kemungkinan hal ini juga disebabkan karena ekonomi si ibu yang kurang mampu. Untuk itu tahun 2010, telah diupayakan untuk membantu ibu dengan KEK, diberikan PMT (pemberian makanan tambahan), sebagaimana dilakukan pada balita dengan gizi buruk. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menekan kasus ibu dengan KEK, dan diikuti dengan menurunkan bayi yang lahir dengan berat badan dibawah 2500 gram. Selain itu, kegiatan kelas ibu sangat membantu sasaran dalam hal meningkatkan pengetahuan bahkan perilakunya sehingga ibu hamil mengetahui asupan gizi yang mestinya dikonsumsi sehingga tidak terjadi kelahiran bayi dengan berat badan rendah.
Grafik 9. Tren Kasus BBLR di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2009 – 2011
4. BBLR ditangani
Pelayanan kesehatan untuk penangangan bayi dengan BBLR yang terlapor adalah 100 % artinya semua bayi yang lahir dengan berat badan rendah telah mendapat penanganan sesuai dengan protap yang berlaku.
5. Balita ditimbang
Pelayanan kesehatan yang diperuntukkan bagi balita salah satunya adalah dengan pematauan status gizinya yang dilakukan dengan penimbangan berat badan. Dengan penimbangan ini, status gizi setiap balita dapat dipantau setiap bulannya, sehingga perkembangan status gizi dapat terdeteksi dengan segera. Berdasarkan pencatatan kegiatan penimbangan di posyandu, 67,81 % balita ditimbang pada tahun 2011. Kondisi ini menurun jika dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu 69,97%.
Grafik 10. Persentase Jumlah Balita yang ditimbang dan naik berat badannya Tahun 2009 – 2011 di Kabupaten Lombok Barat6. Balita BB Naik
Jika dilihat trend Balita dengan berat badan naik dalam kurun waktu 3 tahun adalah fluktuaktif. Dan jika dibandingkan dengan target SPM, memang belum memenuhi.
7. Bawah Garis Merah (BGM)
Tren Balita Bawah Garis Merah jika di lihat dalam 3 tahun terakhir, menurun dan terakhir mencapai 3,7. Kondisi balita yang cukup baik ini menandakan upaya yang dilakukan selama ini seperti kelas gizi, PMT dan penimbangan di posyandu, cukup membuahkan hasil. Namun demikian, hal ini tentu harus terus menerus dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatannya, agar hasil yang telah dicapai tahun 2011, tidak menjadi lebih buruk di tahun mendatang. Penanganan kasus gizi kurang dan gizi buruk ini sesungguhnya telah di mendapat dana dari berbagai sumber terutama BOK (Bantuan Operasional Kegiatan) yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. Sehingga, semestinya kendala dari segi pendanaan dapat diatasi.
Grafik 11. Balita dibawah garis merah (BGM) di Kab.Lobar Tahun 2009 – 2011
8. Balita Gizi Buruk
Kasus balita gizi buruk meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu dari 128 menjadi 189 kasus di tahun 2011, ini menunjukkan upaya pencarian (surveilance) kasus gizi buruk menunjukan cukup baik, karena dengan banyaknya balita yang ditimbang (D/S) dan ditemukannya BGM kemudian langsung diverifikasi dengan pengukuran tinggi atau panjang badan, maka kasus gizi buruk akan cepat ditemukan dan langsung diintervensi.
Pencarian Kehalaman Ini:
- usia harapan hidup kabupaten lombok barat (8)
- masalah kesehatan kabupaten lombok barat (6)
- masalah kesehatan di lombok (5)
- profil kesehatan kabupaten lombok barat (5)
- bblr (4)
- masalah terhadap imunisasi di puskesmas gunung sari (3)
- angka kematian kabupaten lombok barat (3)
- profil kesehatan lombok barat (3)
- cakupan kunjungan bayi 2011 bojonegoro (3)
- daftar puskesmas di lombok barat (3)







Keamanan
Kesehatan
Komunikasi
Lowongan Kerja
Pendidikan
Perdagangan
Perindustrian
Pertanian
Telepon Penting
Transportasi













