Giri Menang, Jum’at 8 September 2017 – Kabupaten Lombok Barat terpilih menjadi salah satu daerah percontohan penanganan kasus stunting di Indonesia. Hal itu disepakati dalam rapat koordinasi yang dihadiri Menko PMK Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo, Kepala Bapennas Bambang Brojonegoro, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

Mendindaklanjuti program tersebut, Selasa (29/8) lalu, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat Rachman Sahnan Putra diundang ke Jakarta bersama kabupaten/kota yang menjadi percontohan stunting lainnya membahas sistem yang dapat diterapkan secara nasional.

Pembahasan itu melibatkan Bappenas, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK) RI, Kementerian Kesehatan RI, UNICEF, World Bank, tim ahli, konsultan gizi dan empat daerah terpilih sebagai percontohan kasus stunting.

Dari hasil pertemuan itu, disepakati tim dari pusat seperti UNICEF, World Bank dan tim ahli akan turun langsung ke Lombok Barat.

“Nantinya, apabila hasil verifikasi tim tersebut menyatakan sistem yang dibangun Lombok Barat untuk mengatasi stunting sudah layak skala nasional, maka akan diadopsi dan disempurnakan untuk diterapkan secara nasional,” terang Rachman kepada Humas Lombok Barat, Jum’at (8/9).

Untuk tahap awal, akan diterapkan di 100 kabupaten/kota. Nantinya, pimpinan daerah dari 100 kabupaten/kota tersebut akan diberi pengarahan oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla.

Kemudian setiap daerah akan dipanggil masing-masing 10 orang, mulai dari Sekretaris Daerah hingga SKPD terkait untuk diberi pelatihan selama tiga hari.

Terpilihnya Lombok Barat, karena pusat menilai program dan inovasi serta peran serta kepala daerah dinilai cukup baik menurunkan angka kasus stunting di Lombok Barat.

Untuk diketahui, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Akibatnya, balita mengalami kondisi gagal tumbuh sehingga mengalami kependekan.

Penurunan angka stunting di Lombok Barat mencapai 16 poin, yakni dari 49 persen menjadi 32 persen pada 2016. Prestasi tersebut tidak lepas dari berbagai program seperti Gerakan masyarakat sadar gizi (Gemadazi), gerakan masyarakat 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan lainnya. (romi/humas)