* Cetak Dalang Muda, Sekolah Pedalangan Didirikan

WayangGIRI MENANG – Keberadaan dalang wayang sasak mulai berkurang. Hanya sebagian orang yang menekuni pekerjaan ini. Kini, dalang yang berada di balik layar itu didominasi generasi tua. Tidak ingin dalang lenyap ditelan bumi, lembaga yang bergerak di bidang budaya, IDEAKSI bersama Kampung Budaya Sesela mendirikan sekolah pedalangan. Tujuannya, untuk melahirkan dalang-dalang muda yang andal dan energik. Sekolah sudah dibuka pada Jumat (27/5) lalu. Pegiat IDEAKSI, Abdul Latif Apriaman mengatakan, nasib wayang sasak sangat memperihatinkan. Pertunjukan wayang telah tertinggal dan ditinggalkan perkembangan zaman.

”Puisi ini saya tulis, ketika pertunjukan wayang 17 April 2011 silam. Kala itu hanya ditonton empat orang. Malam semakin larut, penonton yang tersisa hanya satu orang. Ini tidak boleh terjadi lagi,” tegas Latif. Sejak peristiwa itu, Latif bersama warga Kampung Budaya Sesela bertekad menjaga tradisi dan budaya. Untuk itu, mereka mewujudkan dengan mendirikan sekolah pedalangan wayang sasak ini. ”Sekolah ini dihajatkan untuk generasi muda generasi penerus di kampung ini. Kita tidak ingin kehilangan jejak atas budaya dan tradisi leluhur kita,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata NTB, saat ini dalang yang tersisa sekitar 40 orang. Dari jumlah itu, hanya 13 orang yang aktif. Latif menjelaskan, sekolah pedalangan ini untuk menjawab tantangan zaman  dengan melahirkan dalang-dalang muda. ”Dalang yang dicetak nantinya mampu memberikan warna pertunjukan wayang yang segar dan ramah dengan kombinasi kemajuan zaman sat ini,” terang dia.

Sementara, Kepala Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Suhaemy sangat yakin dengan sekolah pedalangan ini. Khususnya dalam mencetak dalang-dalang baru. ”Kami yakin, kami mampu mewujudkan lahirnya dalang baru dan energik,” katanya. Ia mengulas sejarah wayang sasak. Ia menuturkan, wayang masuk sekitar abad ke 16 bersamaan dengan masukknya ajaran Islam di Lombok. Melalui wayang, rakyat berkenalan dengan peradaban yang lebih baik dan tata cara bermasyarakat yang luhur. ”Melimpahnya hiburan di televisi bukanlah alasan masyarakat di pulau Lombok meninggalkan tradisi leluhur mereka, seperti Wayang Sasak,” jelasnya.

Sekolah Pedalangan Wayang Sasak di Lombok, merupakan yang pertama di NTB. Siswa angkatan pertama sebanyak 30 orang dan enam orang tim pengajar. Dalam sekolah pedalangan ini dibagi menjadi tiga kelas. Yakni, kelas pedalangan, kelas music, dan kelas tatah wayang.

”Mereka akan dilatih sebaik mungkin selama 6 bulan kedepan. Jika mereka berhasil, mereka akan menjadi penanda lahirnya generasi,” terang dia. (jlo/ili/r12)

Sumber