Wisata Menakjubkan dari Gili Nanggu

Kawasan wisata Gili NangguArah pengembangan destinasi pariwisata di Lombok Barat dalam peta pengembangan destinasi ke depannya akan banyak menyasar destinasi wisata  di wilayah selatan Lombok Barat, tepatnya di wilayah kecamatan Sekotong. Tidak lagi market pengembangannya hanya terpusat di kawasan Senggigi. Alasannya Senggigi sudah begitu terkenal dan wisatawan membutuhkan destinasi wisata alternatif yang menjadi rujukan para wisatawan dalam melakukan aktivitas perjalanannya.

Sekotong menawarkan beragam potensi unggulan wisata alam utamanya wisata pantai yang menarik yang bisa dinikmati untuk berlibur. Sebutlah misalnya kawasan Gili Nanggu yang biasa diistilahkan dengan kawasan wisata GITANADA (Gili Tangkong, Nanggu dan Gili Sudak) yang berada Selat Lombok atau di pesisir barat Pulau Lombok. Gili ini berada di wilayah Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Jika mengunjungi salah satu gili ini, sudah pasti wisatawan bakalan takjub dengan keindahan alam yang terhampar di gili ini.  Akses untuk menuju gili inipun sangat memadai, jalanan yang dilalui sudah baik dan tidak perlu memakan waktu yang lama. dari Mataram ataupundari pintu masuk ke Pulau Lombok baik lewat Bandara International Lombok (BIL) maupun melalui Pelabuhan Lembar yang lebih dekat.

Jaraknyapun ke sana kurang lebih 47 km, jika menggunakan kendaraan rmelalui jalur darat dan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Lembar dengan jarak tempuh tidak kurang dari 30 menit anda sudah sampai di kawasan ini. Demikian juga jika menyeberang dari Pelabuhan Tawun, Sekotong Barat, jarak tempuh 25 menit sudah sampai.

Sampai di Gili ini terpampang tulisan Selamat Datang DI GITANADA langsung bisa ditemukan hamparan pasir putih nan menawan dan laut biru yang tenang,serta suasana gili yang asri dan tenang. Dan jika sudah  matahari mulai condong ke arah barat bisa menyaksikan sunset dan sunrise tempat ini menjadi pilihan yang tepat.

Sejumlah fasilitas yang tersedia di Gili Nanggu begitu lengkap. Diantaranya, penginapan, diving maupun snorkeling. Tentu berwisata ke Gili Nangu dijamin kepenatan rutinitas kerja selama semingu akan terbayang dengan suasana refresing yang menyenangkan dan bugar kembali memulai pekerjaan berikutnya.

Selain itu disekitar gili ini ada dua gili yang berdekatan yaitu gili kedis dan gili sudak yang bisa kamu kunjungi dengan perahu ataupun speedboat. Untuk itu mari kita berwisata berwisata ke Gili Nanggu saja.

Jurnalisme warga: Wardi, warga Labuapi

Menikmati Pesona Malam di Pantai Senggigi

Pesona Malam di Pantai Senggigi
Wisata alam di Lombok Barat begitu syarat akan keunikan, kekhasan dan karakteristik lokasi yang beragam. Wisata alam merupakan suguhan wisata yang lagi digandrungi para wisatawan khususnya para muda mania. Karena disamping sebagai media rekreasi, namun juga bermanfaat ganda sebagai media pembelajaran bagi referensi studynya di bangku kuliah atau sekolah.

Di Lombok Barat tidak hanya menyuguhkan keelokan alamnya yang tersaji. Namun ada sajian lain yang selalu melengkapi kunjungan wisata ke Lombok Barat, Diantaranya soal kuliner, budaya dan lainnya.

Baik wisata alam, wisata kuliner yang ada di Lombok selalu menjadi konsumsi media sosial maupun media elektronik dan cetak untuk selalu dipublis. Bagaimana menjajal keindahan malam di balik gemerlap lampu neon warna-warni di Pantai yang sudah kesohor namanya di tingkat dunia ini.

Pantai Senggigi menjadi obyek wisata paforit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, karena memliki daya tarik tersendiri bagi obyek wisata lainnya di Pulau Lombok.Keindahan pantai di siang hari masih berbekas hingga malam hari seakan tak pernah pudar atau luntur akan sergapan matahari di siang hari. Buktikan saja berjalan-jalan di malam hari, suasana pantai Senggigi sedikit beda dan khas dibanding siang harinya. Keindahan bola lampu yang terpasan di sana-sini baik di pinggir jalan hingga menerangi bibir pantai di kawasan Senggigi membuat siapapun berdecak kagum, bahkan ingin berlama-lama menikmati keindahannya, apalagi didukung oleh kondisi cuaca yang cerah.

Tiupan angin sepoi-sepoi dan deru ombak yang menghempas pelan di tepi pantai terasa nyanyian alam seakan menghibur hati yang tengah berkecamuk lara dan gundah gulana. Semuanya membuat hati menjadi lebih tenang, sunyi dan relaksasi denan sendirinya datang menghampiri.

Sembari menikmati sajian khas kuliner Lombok berbagai jenis aneka rasa ditemani segelas kopi atau minuman khas Lombok natural, sembari duduk menyandar di pinggir pantai menjadi kenangan malam yang teringat sepanjang masa. Berliburlah ke Senggigi siang dan malam hari tidak akan rugi meluangkan waktu anda untuk sekedar menghilangkan kepenatan selama rutinitas kerja yang begitu tinggi.

Wardi, jurnalisme warga Labuapi.

Jajar Legowo Maxi Tingkatkan Produktivitas Padi

DSC_0074Hasil kreatifitas dan rekayasa teknologi pertanian melalaui system kaji tindak dan ujicoba penanaman padi varietas Jajar Legowo Maxi yang diaplikasikan oleh para penyuluh pertanian khususnya dibawah binaan Unit Pelaksana Teknis  Balai Penyuluh Pertanian (UPT BPP) Kecamatan Lingsar, Lombok Barat hasilnya sungguh luar biasa. Kesungguhan para penyuluh atau sering disebut pahlawan kemakmuran ini dengan mendorong para petani yang berada pada lahan uji coba seluas 70 are tersebut mampu meningkatkan nilai produktivitas padi atau beras yang selama ini dikhawatirkan tidak bisa menuai  tingkat maksimal.

Keraguan itu akhirnya bisa dibuktikan pada panen raya padi sistim Jajar Legowo Maxsi, hasil kaji tindak penyuluh pertanian pada lahan percontohan UPT Balai Penyuluhan Kecamatan Lingsar, beberapa waktu lalu. Kepercayaan diri para penyuluh pertanian bersama masyarakat petani setempat cukup beralasan. Karena hasil uji coba dimaksud hasil panen meningkat cukup drastis. Misalnya pada padi varietas Jajar Legowo Maxsi sistem 2:1 target Kementerian Pertanian perkiraan hasil tidak lebih tidak kurang dari 7 ton padi persatu satuan hektar.  Namun oleh UPT Balai Penyuluh Kecamatan Lingsar mencoba kaji tindak tanam jajar legowo sistim 4:1 Maxi mampu menghasilkan 7,2 ton padi per hektar. Sedangkan dengan sistim 6:1 Maxi mampu menghasilkan 8 ton per satu satuan hektar.

Kerjasama yang baik antara para penyuluh pertanian dengan para kelompok tani di Kecamatan Lingsar juga menjadi semangat dan kolaborasi sistim yang selama ini cukupbagus dikembangkan dan terbina dengan baik. Karena itu tidak heran jika keberhasilan itu tidak mungkin datang sendiri. Namun kerjasama antara para penyuluh pertanian dan dan kelompok tani patut diberikan apresiasi. Sebagaimana dijelaskan Camat Lingsar, Rusditah S.Sos bahwa di wilayahnya terdapat 25 orang penyuluh baik penyuluh pertanian, perikanan maupun kehutanan. Sementara jumlah kelompok tani sebanyak 112 kelompok. Terbagi dalam 72 kelompok tani pangan, 25 kelompok tani perikanan dan 15 kelompok tani kehutanan. “Kecuali itu berkat sponsor dari PT Singenta Indonesia dan pupuk Kaltim dari segi penyediaan pupuk juga turut membantu kerhasilan ini,” kata Rusditah.

Kepala Balai Penyuluh Lombok Barat, HM. Halawi Mustafa menjelaskan, jumlah penyuluh di kabupaten Lombok Barat saat ini sebanyak 356 orang. Terdiri dari penyuluh pertanian tanaman pangan sebanyak 288 orang, penyuluh perikanan 33 orang dan penyuluh kehutanan 35 orang. Penyuluh sebanyak itu terdiri dari penyuluh yang bersatatus PNS, penyuluh swadaya dan penyuluh tenaga kontrak pusat.

Kaji tindak di Kecamatan Lingsar ini akan ditindaklanjuti dengan desiminasi teknologi dalam bentuk media cetak, brosur, leaplet dll. Kegiatan ini akan dijadikan materi penyuluhan bagi para penyuluh di Lombok Barat. “Dibalik petani sukses ada penyuluh handal yang selalu mendampingi, menjadi pasilitator, desiminasi teknologi inovasi bagi petani di kabupaten Lobar.

Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid menyatakan, penyuluh harus mengikuti perkembangan terbaru di bidang teknologi pertanian dan tak boleh tertinggal. Ia member contoh, beberapa waktu lalu di kecamatan Lingsar ini mampu produktivitas padi melalui pendekatan teknologi pertanian dengan capaian 10, 64 ton/ha. Hasil ubinan dan kaji tindak teknologi tanam sistim jajar legowo telah menghasilkan padi sebanyak 8 ton per hektar. “Ini tentu tidak akan terjadi secara tiba-tiba tapi perlu ada satu pengelolaan/pendekatan dan juga tentu saja ada teknik-teknik di bidang pertanian yg mampu menghasilkan tingkat produksi yang sangat tinggi. Secara nasional produktivitas baru mencapai 5-6 ton/ha. Kita di Lombok Barat sudah bisa mencapai 7-8 ton/ha. Ini artinya sudah bisa diatas rata-rata nasional,” katanya.

Bupati mengakui saat ini areal pertanian semakin banyak berkurang. Namun di Lombok Barat mampu mencetak sawah baru tahun ini seluas 100 ha. Namun tetap saja terjadi pengurangan atau penyempitan lahan. Disebabkan makin banyaknya pembangunan perumahan, perkantoran, sekolah, pertokoan dll. Serba dilematis, disatu sisi diperlukan penyediaan lahan untuk pembangunan fhisik utk menunjang percepatan pembangunan ekonomi. Tapi di sisi lain lahan pertanian makin berkurang. Disinilah perlu adanya intensifikasi tapi juga ekstensifikasi, bahkan diversifikasi di bidang pertanian.

“Ini tugas penyuluh. Yang harus terus mendidik, melatih, membemibing para kelompok tani agar mampu mempertahankan stabilitas hasil. Katakanlah pada tahun 2008 lalu hasil produksi padi kita sebanyak 148 ribu ton. Sekarang sudah bisa mencapai 171 ribu ton ada peningkatan. Itu ekwivalen dengan 117 ribu ton beras, ada surplus, kata fauzan.

Panen raya akan sangat bermanfaat dalam rangka meningkatkan produktivitas di bidang beras dan lainnya. Dalam rangka peningkatan produktivitas beras NTB telah dijadikan satu daerah secara nasional yaitu dua hal pariwisata dan ketahanan pangan. Ketahanan pangan terkait dengan upaya penyuluh, pertanian. Ketahanan pangan ini juga sangat terkait dengan keterjangkauan dan ketersediaan pangan setidaknya harus mampu menyediakan pangan yang berkualitas/padi yg berkualitas.

“Mudah-mudahan Lobar menjadi kiblat pertanian di NTB. Catatan dari Asosiasi Perbenihan Lombok Barat mencatat telah mampu mensuplay 60 persen kebutuhan benih petani dari Lobar. Dari 3.200 kebutuhan benih Lombok Barat mampu memenuhi 800 ton saja dari kebutuhan selebihnya dikiri ke seluruh NTB. Surplus kita sekarang 25 ribu ton. Kalau ini kita pertahankan lobar akan menjadi penyangga beras dan pangan nasional,” jelas Fauzan

Jurnalis Warga: Oleh Wardi, Labuapi

Sukses Petani Asal Trong Tawah Dengan Pupuk Organik

jurnalis wargaKetekunan Inaq Sairah (40) dibantu suaminya Amaq Sairah warga Trong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat dari menyiapkan bibit tanamannya, mengolah lahan, pemupukan hingga proses terakhir panen maupun pasca panen mesti menjadi pembelajaran amat pentig bagi petani lainnya untuk selalu bekerja keras dan mennyenangi pekerjaannya sebagai petani. Meski tak punya lahan sejengkalpun, namun berbekal keterampilan dan keuletannya, ia tak lantas menyerah pada keadaan. Ia memutuskan untuk menyewa lahan yang luasnya tidak lebih dari 10 are saja.

Rutinitas ini selalu ia teruskan, meski masa sewa lahan sudah berakhir. Ia mencari lahan sewa yang lain. Inaq Sairah merupakan petani penggarap lahan milik orang dan yang spesifik dan tetap melekat padanya adalah menanam tanaman sayur-mayur yang setiap hari diserap pasar. Sebutlah misalnya, tanaman tomat, cabe rawit, cabe besar, kacang panjang, sawi, col, mentimun dan lain sebagainya.  Inaq Sairah cukup jeli melihat pasar. Di saat sayur-mayur lagi langka dan petani lainnya tidak berminat untuk membudidayakannya, karena factor iklim yang kurang mendukung, justru petani 4 orang anak ini berani mengembangkannya. Meski petani lainnya sering menentang pola tanam yang diterapkannya, namun Amaq Sairah tetap memprediksikan peluang pasar. “Di saat panen melimpah pada satu komoditi saja, alhamdulillah kami bisa mendapatkan hasil yang lumayan, namun dari komoditi lain seperti tanaman sayur-mayur ini,” terang Amaq Sairah.

Kesuksesan mengembangkan dengan komoditi sayur-mayur bagi Amaq Sairah tentu tidak terlepas juga dari proses usaha tani yang selama ini dijalankan, terutama dari sisi pemupukan tanaman dengan cara sederhana, baik dan benar. Ditengah kelangkaan pupuk, mahalnya harga pupuk dan selama ini pemupukan dengan menggunakan zat kimia sangat berpengaruh terhadap kejenuhan tanah dan kesuburannya dan sangat rentan akan gangguan kesehatan bagi manusia yang dijadikannya sebagai makanan tiap harinya.

Karena itu Amaq Sairah merasa tidak perlu repot soal pemupukan tanaman hortikulturanya. Ia selalu mengandalkan pupuk kompos dan atau pupuk kandang. Hal ini mengingat pupuk kandang secara swadaya bisa diusahakannya, mengingat di kampungnya banyak warga yang memelihara ternak baik sapi, ayam, burung dan lainnya. “Bahkan saya bisa membuat sendiri pupuk organik yang bahannya dari sampah dedaunan, sampah organic dari dapur, kotoran ternak dan selalu saya manfaatkan untuk setiap kali saya bertanam sayur,” ungkap Amaq Sairah.

Ia mencontohkan pada tanaman mentimunnya yang luasnya hanya 10 are tersebut ia hanya membutuhkan 10 karung pupuk kompos yang disebarkannya sebelum melakukan penanaman maupun secara rutin dua kali sebulan.

“Hasilnya cukup menggembirakan, daun dan bunga lebih  cepat tumbuh, sehingga cepat berbuah. Dan buah yang dihasilkannyapun benar-benar alami dan terbebas dari pupuk pestisida lainnya. Rata-rata setiap kali panen mentimun kami memperoleh maksimal 10-15 karung dengan harga di tingkat pengepul Rp. 90.000 per karung. Setiap minggu panen antara 3-4 kali saja. Usia panen kan bisa sampai sebulan lebih. Bisa dihitung berapa hasil yang bisa kami peroleh,” Tanya Amaq Sairah sembari tersenyum.

Jurnalis Warga oleh  Wardi,  Alamat Labuapi

Wayan Swastika Penyuluh Inovatif dari BPP Narmada

Wayan Swastika Penyuluh Inovatif dari BPP Narmada (1)Seorang penyuluh secara umum baik pertanian, perikanan, kehutanan maupun perkebunan haruslah tetap berinovasi sekaligus berimprovisasi. Hal ini perlu dilakukan selain sebagai bentuk pembelajaran dan contoh positif yang harus dikembangkan dan diteruskan kepada kelompok tani binaannya, juga merupakan nilai tambah bagi karier seorang penyuluh.

Penyuluh Kehutanan Madya BPP Narmada, Lombok Barat, Wayan Swastika terbilang penyuluh kreatif dan inovatif. Media ini ketika berkunjung ke rumahnya di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Narmada, Lombok Barat suasananya menjadi riuh nan ramai. Pasalnya 1000-an ayam pedaging dipeliharanya dalam kandang yang cukup rapi dan bersih. Belum lagi di kebunnya yang seluas 5 are, ia memlihara ayam serupa dengan jumlah 2000-an ekor.

Yang menarik dari usaha ternak yang ditekuni penyuluh yang cukup ramah ini adalah pemanfaatan limbah ternak untuk mpembuatan pupuk kompos atau pupuk bokashi dengan aplikasi cairan pupuk organik EM. Ia berinisiatif untuk membuat pupuk organik ini karena terinspirasi oleh keberhasilan rekan-rekan penyuluh lainnya terhadap pembinaan pembuatan pupuk organik aplikasi EM kepada sejumlah kelompok tani dan ternak yang ada di wilayah BPP Narmada.

Kesuksesan aplikasi EM ini yang menginisiasinya untuk membuat pupuk kompos sendiri. Secara kebetulan Wayan Swastika memlihara ayam pedaging. Ketimbang kotorannya dibuang percuma iapun membuat pupuk kompos dengan bahan-bahan sisa kotoran ayam dimaksud, lalu dicampur dengan tanah gembur, sekam dan sampah dedaunan yang sudah kering.

Proses pembuatan pupuk kompos aplikasi EM ini langsung dimasukkan dalam karung dan diendapkan beberapa lamanya di dalam karung. Tidak lebih dari 9 karung yang sudah dihasilkan dari pembuatan pupuk ini. “Rencananya akan saya gunakan untuk pemupukan pada tanaman sayur-mayur yang akan saya siapkan di lahan ini. Ya paling tidak bisa untuk konsumsi sendiri. Karena mengkonsumsi tanaman sayur-mayur untuk keluarga dari hasil pemupukan secara organik sangat baik untuk kesehatan. Kita dianjurkan untuk kembali kea lam,” kata Wayan.

Wayan juga berkomitmen untuk memperbaiki mutu dan kualitas produksi ternak ayam pedagingnya sehingga mampu meningkatkan volume dan kualitas daging dengan aplikasi EM ternak. Ia mengaku tingkat usaha ternak sangat terbantu dan meningkat setelah menggunakan EM. Disamping itu juga bau limbah kotoran ternak yang tidak sedap bisa dielimir oleh EM ternak ini

Jurnalis Warga: Wardi,    Alamat:  Labuapi.

Ekowisata Krujuk Yang Mulai menggoda

Air Terjun Kerujuk, Pusuk

Terpampang tulisan selamat datang di  “Ekowisata Kerujuk”, Desa Pusuk Lestari, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat yang berada di tepi jalan menuju Kabupaten Lombok Utara atau menjelajahi berbagai wisata pantai di Gili Trawangan, Meno dan Gili Air.

Kerujuk dijadikan sebagai daerah Ekowisata, atas dasar keinginan untuk tetap melestarikan lingkungan dimana kawasan ini termasuk dalam kawasan hutan lindung Pusuk yang  menjadi satu ekosistem yang padu anatara sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Berbeda dengan Agrowisata yang hanya memanfaatkan sumber daya alam agar bisa dinikmati oleh para pengelola dan pengunjung.

Nurfaizin salah seorang pengelola ekowisata Kerujuk menjelaskan,  bahwa Ekowisata Kerujuk ini diharapkan akan memberikan dampak positif bagi kelestarian alam dan peningkatan ekonomi bagi masyarakat Kerujuk. Ia mengakui juga bahwa banyak masyarakat kerujuk menggantungkan hidup mereka dengan cara merambah hutan. Hal ini sulit kita cegah sebelum kita mampu memberikan peluang kerja yang lain bagi mereka. “Nah, dengan Ekowisata Kerujuk ini kita akan mampu memberikan peluang kerja bagi mereka dan melestarikan alam disini melalui paket-paket ekowisata yang kita tawarkan bagi pengunjung” ungkap Nurfaizin.

Paket Ekowista Kerujuk dibandrol dengan harga Rp.150.000 berupa wisata alam, tour local community dan kuliner kampung. Pada sesi wisata alam, pengunjung diajak untuk melihat dan menikmati jernih dan sejuknya air terjun dan sungai yang berasal mata air hutan Pusuk, Hutan yang hijau, dan alam pedesaan yang asri. Tour local community, pengujung diajak untuk melihat dan bercengkrama dengan kegiatan petani gula aren sekaligus menikmati segarnya air nira dan Kopi Aren. Pengunjung juga akan diajarkan membuat kerajinan bambu dan rotan. Bagi pengunjung yang hobi mancing juga telah ada kolam pemancingan. Yang hobi permainan tradisional juga disediakan arena permainan tradisional.

Pada akhir paket, pengunjung akan menikmati kuliner kampung berupa jajanan local dengan ciri khas gula aren ditutup makan siang dengan menu ikan air tawar dari kolam pemancingan. Tak lupa pengunjung disediakan oleh-oleh untuk dibawa pulang gula aren bricket dan gula aren Semut yang menyehatkan. 

Kunjungan para wisatawan di lokasi ini telah mendorong keramahan dan kesadaran waarga di sini akan potensi alam yang mereka miliki. Dari kunjungan itu akan menggairahkan langkah mereka untuk menyambut pengunjung dengan kemampuan mereka. Hingga akhinya mereka berpikir ekowisata Kerujuk telah menjadi sumber mata pencaharian warga dan berakibat pada pendapatan masyarakat yang semakin meningkat.

Jurnalisme warga/Artikel Oleh: H. Wardi-Labuapi

Program KOTAKU…Insya Allah Kotaku Tak Kumuh Lagi

Ahad Legiharto,ST.M.EngSetiap orang berhak untuk hidup sejahtera, lahir dan bathin. Bertempat tinggal, mendapatkan lingkungan hidup yang sehat dan baik, serta berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Tinggal di sebuah hunian dengan lingkungan yang layak, merupakan hak dasar yang harus dipenuhi pemerintah. Namun penanganan permukiman kumuh menjadi sebuah tantangan  bagi pemerintah kabupatenh/kota. Karena selain merupakan masalah, tapi juga merupakan salah satu pilar penyangga pererkonomian. (lebih…)

Ihsan, Petani Berprestasi Asal Sekotong Sulap Lahan Kering dan Tadah Hujan Menjadi Produktif

foto ihsan petani berprestasi tingkat nasional asal      Sekotong

Wilayah Sekotong dikenal dengan daerah yang kering, banyak lahan tadah hujan di daerah itu yang sulit digarap. Petani setempat pun kerap kali dilanda masalah, disebabkan air minim apalagi dimusim kekeringan. Namun ditengah keterbatasan itu, petani setempat tak kehabisan upaya. Dimotori oleh Ihsan (35) petani asal Dusun Berambang Desa Sekotong Tengah, para petani setempat pun mampu menggarap lahan yang tadinya kering menjadi lahan produktif.

Berangkat dari persoalan yang dialami petani setempat, Ihsan mencoba mengembangkan teknologi sederhana. Berkali-kali gagal, namun ia mencoba terus menerus sehingga mampu menghasilkan produksi 9 ton per hektar itupun dilahan non irigasi (lahan kering). “Sejak 2013 lalu kami bersama-sama petani disini mencari solusi bagaimana menggarap lahan tidur (lahan kering) menjadi lahan produktif,”katanya ditemui Selasa (27/9).

Ia mengaku, awal mula mengembangkan pertanian di wilayah setempat tahun 2013 lalu. Saat itu minim infrastruktur penunjang seperti irigasi dan bantuan benih. Ia pun mencoba mengembangkan benih dengan pola demplot padi melalui program SLPTT. Lalu bibit hasil demplot itu ditanam disawah, hasil panennya kurang memuaskan karena hanya 4 ton dalam satu hektar. Ia bersama petani lain pun mencoba mencari apa masalahnya sehingga produktivitas rendah. Ia mencari apa yang kurang lalu digali dan dicarikan solusinya. Saat itu, barulah diketahui bahwa petani belum menerapkan pemupukan berimbang. Ia pun berupaya berbagi informasi dengan petani lain, terkait langkah apa saja yang dilakukan untuk menanam padi. Ia turun ke petani untuk memberi tahukan terkait bagaimana cara menanam yang menghasilkan padi yang tingi.

Atas pembinaan itupun, musim tanam tahun berikutnya ia memperbaiki dengan menerapkan pemukukan berimbang. Sehingga diperoleh hasil yang terus meningkat, hingga saat ini diperoleh produktivitas menembus 9 ton per hektar cuaca yang bagus. Ditengah upayanya menggarap lahan kering tersebut, pihaknya memanfaatkan teknologi yang ada. Bahkan, untuk memuhi kebutuhan air irigasi pertnaian ia dengan petani lain slaing pinjam mesin pompa air. Ia juga membuat alat sederhana untuk bercocok tanam, alat ini dibuat hasil belajar dengan belajar di petani daerah lain. Ditengah kemarau panjang, ia pun menuai kendala sulitnya air. Ia pun secara sawadaaya membuat sumur, sebelum dibantu Dinas Pertanian. Sumur ini sedikit membantu petani untuk mengairi sawahnya.Selain memafatkan air sumur, patani juga menyedor air sungai dan embung yang masih tersisa. Ketika sulit aair, petani setempat terpaksa harus menginap di lo di areal pertanian.

Saat ini jelasnya petani setempat sudah teknologi pemupukan berimbang, jajar logowo, handtraktor, tanpa olaha tanah dan pengolahan pasca panen.”Kami juga sudah membuat alat panen sederhana buatan kami,”ujarnya. Teknologi lain yang dikembangkan, saat ini jajar legowo, sistem ini mampu menghemat benih dan biaya. Ia bersama petani setempat tidak mau tergiur menjual padinya dengan harga murah, atas bantuan pemerintah dibangunkan gudang penampungan gabah. Gabah tersebut sebelum dijual diolah dan dikeringkan, ketika harga lumayan mahal,. Selain itu, petani juga diarahkan untuk mengolah gabahnya menjadi beras barulah setelah iti dijual dalam bantu beras. “Nanti ibu rumah yang jual beras itu,”ujarnya.

Selain mengembangkan padi, ia juga mengembangkan sejumlah komditi lain seeprti sayuran dan cabe. Tanaman ini dikembangkan secara swadaya dengan menerapkan teknologi sederhana. Ia menggarap lahan seluas 7 hektar, dari luas tersebut 3 hektar milik pribadi sedangkan sisanya milik pengusaha yang nganggur. Karena lahan menganggur maka ia pun menawarkan kepada pemiliknya agar digarap. Ia membagi lahan itu untuk menanam padi, jagung dan hortikulura. Ia mengaku perjuangannya mengembangkan lahan pertanian di wilayah setempat teryata dinilai oleh tim pusat. Ia pun berhasil mewakili NTB menjadi petani berpestasi tingkat nasional. Beberapa paramter yang dinilai, analisa di lapangan, mislanya untung rugi menggunakan pola penanaman yang dikembangkan.

Ia mengaku meskipun menjadi petani berprestasi, ia mengaku perhatian terhadap petani setempat masih belum memadai. Sebab kendala yang dialami petani masih terkait air dan akses permodalan. Terkait kebutuhan air, Meskipun sudah dubangun embung Ribu kuning di daerah itu namun kapasitas tampungannya terbatas. Embung itu hanya mengair 250 hektar saja dari ribuan hektar lahan yang ada. Menyangkut modal katanya, banyak petani terpaksa mengijonkan padinya karena sulit akses modal. Petani menjual murah padinya, karena tidak ada modal untuk membeli kebutuhan pertanian. Ia mengaku hampir semua petani di wilayahnya ngijonkan padi untuk membeli kebutuhan pertanian. ‎

Pengirim Jurnalis Warga  : Zubaidi- Sekotong

Ida Sulyaningsih, SE Srikandi Pejuang Irigasi

Ida Sulyaningsih, SE

Srikandi Pejuang Irigasi

Apa modal yang harus disiapkan orang dalam berinovasi? Salah satu modal itu adalah optimis, percaya diri. Jangan katakan ‘tidak bisa’ sebelum mencoba. Jangan pernah berkata ‘tidak ada waktu’ sebelum kehilangan waktu. Intinya, semua orang punya hak untuk berkarya, punya waktu 24 jam sehari.

Bagi Ida Sulyaningsih, berjuang mengelola irigasi sudah mantap untuk bersikap. Rasa optimis dan percaya diri adalah sebuah tameng, sebuah perisai yang dirasa mujarab untuk meraih keberhasilan. Srikandi Pengamat Pengairan kecamatan Kediri ini seperti tak pernah kehilangan kendali. Bersama teman-teman sejawat, baik penjaga pintu air, pekasih maupun pengguna air, seperti air dengan riaknya, selalu bersatu, menjaga dan mengelolanya. (lebih…)

Malean Sampi Tradisi Khas Petani Lombok Barat

Malean Sampi

Khasanah budaya di Lombok tak akan pernah habisnya. Potensi budaya banyak yang belum tergarap dan mengemuka. Meski selama ini ada sejumlah pentasan budaya yang mencuat, itu hanya baru separuhnya saja. Masih banyak sisi lain dari khasanah kearififan budaya lokal yang masih terpendam bak mutiara yang siap memendarkan cahayanya. Salah satunya  yakni budaya Malean Sampi.

Budaya Malean Sampi ini di Lombok biasanya digelar pada areal persawahan yang ada di Kecamatan Lingsar dan Kecamatan Narmada.

Dalam terminology bahasa Sasak-Lombok Malean Sampi artinya mengejar sapi. Beda dengan karapan sapi di Madura yang bertujuan untuk lomba. Namun di Lombok Malean Sampi merupakan wujud rasa syukur para petani yang sudah selesai melaksanakan panen dan menyambut musim tanam berikutnya. Ditengah kegembiraan petani dengan hasil produksi pertanian itulah, petani memilih jeda untuk menggelar Malean Sampi yang dilaksanakan di area persawahan berlumpur.

Menurut Sahnan, SH buadayawan Lombok yang juga warga Lingsar menjelaskan, Malean sampi di Lombok juga menjadi salah satu even tradisional budaya turun-temurun yang dilestarikan hingga sekarang. Kecuali itu gelaran Malean Sapi diselenggarakan untuk menyambut kegiatan musim tanam berikutnya dan sebagai wadah bagi petani peternak untuk rekreasi, menghibur diri dan menjalin hubungan silaturrahmi sesama petani peternak agar lebih kuat.

Dalam kontes Malean Sampi ini, para peserta selain berasal dari petani/peternak, juga berasal dari para saudagar sapi se-Pulau Lombok. Sapi yang akan dilombakan terlebih dahulu dikemas atau dihias dan dipercantik dengan sebaik-baiknya agar menarik perhatian penonton. Hiasan tersebut bisa berupa bendera, stiker atau umbul-umbul kecil dan piranti pelengkap lainnya indah dan elok dipandang mata.

Sapi yang dikonteskan dalam ajang Malean Sampi biasanya dipilih atau diambilkan dari yang pejantan yang tanduknya sudah kelihatan keras dan sudah dibante (disuntik). Sistem bante dilakukan guna memudahkan para pemilik sapi dalam mengajarkan cara bertanding yang semestinya. Sapi yang dikonteskan tersebut disandingkan jadi satu pasar dan ditunggangi oleh joki yang tangguh dan berpengalaman.

Secara perlahan satu demi satu pasangan sapi ini dikonteskan dengan berlari melewati jalur lurus yang sudah disiapkan dilahan berlumpur. Namun dalam Malean Sampi ini tidak dikenal  istilah menang dan kalah. Namun sapi yang larinya bagus, tak berbelok, maka praktis sapi dimaksud akan menjadi incaran para saudagar sapi untuk dibeli dengan harga tinggi. Para saudagar berani membeli sepasang sapi tersebut seharga Rp. 30-35 juta.

H. Rawitah. budayawan Lombok lainnya mengungkapkan, jika Malean Sampi ini merupakan tradisi turun-temurun dari para leluhur mereka. Namun keberadaannya perlu lebih dimaksimalkan oleh pemerintah. Padahal Malean Sampi ini dikenal budaya unik di Lombok.

Event Malean Sampi diawali dengan parade atau defile pasangan sapi mengelilingi arena lomba. Kecuali itu sebelum dimulai, para wisatawan dan tamu undangan disuguhi permainan menarik khas Lombok yakni Peresean. Usai prosesi ini, para tamu undangan tidak terkecuali para wisatawan turut larut dalam acara makan bersama secara ala Sasak yakni Begibung. Deretan dulang (baki tinggi) diletakkan pantia untuk para wisatawan dan tamu undangan.
Mereka makan bersama-sama ala Sasak sebagai perwujudan krsamaan dan kekompakan masyarakat dengan lauq-pauq tradisional yang cukup sederhana.

Jurnalis Warga: H. Wardi, S, warga Labuapi Lombok Barat

1 2 3 4 18