ZIARAH, SELAKARAN, DAN HAJI DI LOBAR

Ibadah Haji bagi umat Islam adalah kewajiban personal (fardhu ‘ain), namun dikhususkan bagi yang memiliki kemampuan, baik fisik, ekonomi, dan terutama dalam aspek mental.

Khusus bagi masyarakat muslim di Pulau Lombok, ibadah haji ini dianggap sebagai ibadah puncak penghambaan seseorang kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang dilakukan dengan cara peribadatan tertentu, ritual tertentu, waktu tertentu, bahkan tempat-tempatnya pun telah ditentukan oleh ajaran Islam (syari’at).

Oleh karenanya, perlakuan terhadap ibadah ini menjadi sangat spesial. Seseorang yang berniat haji, jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri. Apalagi dengan kebijakan kuota, maka persiapan (terutama dalam hal pembiayaan) dilakukan belasan tahun dari waktu keberangkatannya.

Bagi mereka di Pulau Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Barat, persiapan menuju keberangkatan haji dilalui dengan banyak proses ritual, baik yang bersifat personal maupun sosial. Secara personal, persiapannya tidak hanya dengan mencukupkan biaya perjalanan, namun juga secara fisik dengan melatih diri ber-manasik (ritual haji).

Untuk persiapan secara sosial, seorang Calon Jama’ah Haji (CJH) di Lombok Barat menyelenggarakan ziarahan di mana ia membuka rumahnya untuk dikunjungi masyarakat.

Ziarahan (kunjungan warga) biasanya diawali acara buka ziarahan. Ziarahan haji memiliki filosofi yang cukup dalam, baik bagi CJH maupun para tamunya yang berziarah. Mereka tidak hanya hadir untuk mengucapkan kata selamat dan mendo’akan si CJH, namun juga memberi kesempatan bagi CJH untuk saling mengikhlaskan kesalahan-kesalahan selama belum berangkat.

Bagi masyarakat Suku Sasak, keberangkatan haji ke tanah suci seperti menuju medan perang dengan resiko kematian. Mereka beranggapan bahwa keberangkatan mereka adalah “memerangi” diri sendiri dan dikelilingi oleh banyak godaan dan cobaan. Dengan banyaknya resiko dalam perjalanan, maka berangkat Haji seperti juga menyongsong jihad kematian sebagai resiko terbesar dalam peperangan.

Di masa lampau ketika transportasi masih menggunakan jalur laut, maka keberangkatan haji adalah menghadapi gelombang laut dalam waktu yang cukup lama. Itu mengapa, bagi masyarakat muslim Suku Sasak (Suku Asli Pulau Lombok), berangkat haji sampai saat ini disebut “belayar”.

Resiko perjalanan tersebut adalah kematian, maka prosesi ziarahan bagi CJH menjadi ajang saling memaafkan.

Sejak ziarahan dibuka, tetangga, kerabat, dan sahabat pun berdatangan. Mereka kadang “beselawat” (memberi tambahan sangu) buat si CJH. Tradisi “beselawat” ini tidak memandang status ekonomi si CJH atau peziarah. Mereka memberikan sebagai tanda suka citanya atas perjalanan CJH.

Di sore atau malam hari, sang CJH pun kerap menyelenggarakan acara “selakaran”. Selakaran ini adalah melantunkan zikir dan sholawat Nabi Muhammad Saw secara bersama-sama, sambil berdiri, dan membentuk lingkaran.

Selakaran ini menjadi penghantaran para warga, kerabat, dan sahabat kepada si CJH sebelum dan ketika berada di tanah suci. Mereka mendo’akan para jama’ah supaya tetap sehat selama ibadah haji. Selakaran ini, biasanya, semakin intensif dilakukan ketika ada kabar kurang mengenakkan yang menimpa si CJH.

Haji bagi umat Islam Suku Sasak adalah ibadah puncak. Siapapun ingin berhaji walaupun sesungguhnya secara ekonomi belum mampu, kecuali hanya mencukupkan biaya perjalanan. Itu mengapa, seseorang yang berstatus “haji” tidak mesti adalah orang kaya. Mereka berkeyakinan, haji adalah kewajiban personalnya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di Kabupaten Lombok Barat, jumlah CJH tahun 2018 ini adalah sebanyak 574 CJH. Mereka terbagi dalam dua Kelompok Terbang (Kloter) di embarkasi Mataram.

Menurut Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lobar, melalui Kepala Sub Bagian TU, Muhammad Iqbal, S. Ag., Kloter 3 (keberangkatan pertama CJH Lobar) diberangkatkan tanggal 21 Juli sebanyak 442 jama’ah dan 3 orang petugas.

“Pelepasan dilakukan tanggal 20 Juli dengan sholat subuh bersama di Bencingah, karena CJH harus sudah ada di Asrama Haji pada pukul 07.30 WITA. Setelah pemeriksaan kesehatan dan pemberian kelengkapan lainnya, CJH diharapkan bisa beristirahat karena mereka akan diberangkatkan menuju Madinah pada pukul 01.00 dini hari,” ujarnya.

Sisa CJH lainnya dimasukkan dalam Kloter Campuran. Sebanyak 132 CJH Lobar digabungkan dengan CJH dari Kabupaten Lombok Utara, Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Tengah untuk menenuhi kuota satu Kloter. Mereka dijadwalkan berangkat tanggal 29 Juli 2018 dan masih tetap terkategori sebagai Jama’ah Haji Indonesia Gelombang Pertama. Gelombang terbang itu diberangkatkan dari Bandara Internasional Lombok menuju Bandara Internasional di Kota Madinah Arab Saudi.

Berburu Durian organik Di Lingsar

??????????Berburu durian oganik memang penuh liku. Wajar saja masyarakat memburu durian organik mengingat bahan pemupukan yang digunakan untuk semua jenis tanaman pertanian maupun perkebunan saat ini sudah keranjingan menggunakan pupuk kimia. Tapi warga tak perlu kkhawatir khususnya warga NTB tak perlu risau karenanya. Karena perburuan durian organik taklah sulit menemukannya. Datang saja ke Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Produksi durian organik di wilayah yang dikenal sebagai kandang durian ini tak sedikitpun menggunakan zat-zat kimia dalam pemupukannya. “Kami tak ingin konsumen mengeluh dan bahkan menghindar jika ketahuan menggunakan pupuk an organik. Konsumen saat ini cukup jeli membedakan mana durian organik maupun an organik,” bilang Sakdudin, petani sekalian penjual durian di Karang Bayan, Lingsar.

Kepiwaian konsumen memilih durian organik dan an organik bisa dijadikan tolok ukur akan tingkat kecerdasan dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, segar dan bugar. “Durian organik bisa dilihat dari ciri-ciri kulitnya yang segar, bugar dan isinya yang mengeluarkan aroma khas alami yang langsung bisa dimakan ditempat. Sebaliknya durian an organik, pertumbuhan buahnya terlihat dipaksakan. Bahkan isinyapun menyembulkan aroma campuran dengan rasa yang kurang legit,” Dari warga Karang Pule, Mataram saat ditanya beda durian organik dan an organik.

Sebagaimana diketahui durian menjadi makanan paforit  yang selalu diburu saat musim durian tiba dki Lombok, khususnya sentra penghasil durian yang ada di Lingsar, Narmada dan Gunjungsari, Lombok Barat. Buah pencuci mulut ini disukai, karena rasanya yang enak dan melegakan tenggorokan dengan aromanya yang harum mengundang selera. Biasanya setiap musimnya tiba selalu menjadi buruan dan biasanya laris terjual.

Karang Bayan, kecamatan Lingsar merupakan salah satu areal yang setiap tahun menjadi pasar dadakan, dimana para pedagang durian menjajakan dagangannya  kepada konsumen yang datang dari Lombok Barat,Mataram, Lombok Tengah, Lombok Timur.

Pedagang sekaligus petani durian lainnya, Lalu Mustaan mengungkapkan, durian yang ia budidayakan merupakan durian organik dengan pemupukan ala sederhana yang diambilkan dari campuran kotoran berbagai jenis ternak yang ia pelihara sendiri maupun dari peternak lainnya. Menggunakan pupuk organik dari kotortan kandang ternakpun bagi Mamiq Mustaan begitu ia biasa dipanggil cukuplah praktis. Dari awal penanaman hingga usia pohon rambutan puluhan tahun lamanya ia tetap memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuknya. “Hasilnya cukup memuaskan. Pertumbuhan durian lebih segar, bagus, daunnyapun lebih tebal dan cepat berbunga. Daging buahnyapun lebih berisi serta aromanya yang khas. Karena itulah banyak dicari konsumen,” kata Mamiq.

Jurnalisme Warga, Wardi-Labuapi.

Peluang Pasar Hortikultura Di Lobar Cukup Cerah

??????????Harga komoditi tanaman hortikultura jenis sayur-mayur ternyata masih cukup prospektif. Meski harganya sempat menurun di pasaran, namun penurunan tersebut tidak terlalu membuat petani rugi. Penurunan harga terjadi mengingat  stok di pasar berlimpah. Namun dari sisi ekonomi petani dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan, petani  mengaku masih beruntung.

Hamdi (35) petani sayuran kembang kol asal Labuapi, membandingkan jika pada musim panen sebelumnya, harga perkilonya bunga kol di pasaran bisa menembus Rp 8000. Ia menyadari pada saat itu, petani lainnya masih jarang yang menanam sayuran jenis ini. “Namun sebaliknya saat ini banyak yang mencoba menanam kembang kol dan panen secara bersamaan. Akibatnya harga turun menjadi Rp 5000 perkilonya,” kata Hamdi yang ditemani istrinya saat panen di Labuapi, belum lama ini.

Ditanya soal pemasaran, Hamdi tak terlalu mengkhawatirkannya. Selama ini ia memasarkannya ke sejumlah pasar seperti pasar Kebon Roek, Pasar Bertais, Pasar Pagesangan (Mataram), Pasar Labuapi, Pasar Perampuan, Pasar Kediri, Pasar Gerung di Lombok Barat. “Di sejumlah pasar tersebut kebutuhan sayur-mayur permintaannya masih tinggi. Karena itu peluang pasar tanaman holtikultura ini tetap stabil,” jelas Hamdi yang juga anggota Kelompok Tani Labuapi 4.

Terkait penyakit yang suka menyerang tanamannya, Hamdi tidak menampiknya. Paling banter serangan hama ulat daun seringkali mengancam tanaman sayurnya. Salah satu cara untuk membasminya dengan menyemprotkan insektisida ulat daun.

Hamdi juga melakukan persemaian bibit kol sebelum di tanam di sebidang tanah yang luasnya 15 are. Ia membeli bibit sebanyak 10 gram dengan harga Rp. 70 ribu. “Dari 10 gram bibit tersebut menjadi 1.500 batang. Masa panen terhitung sampai 45 hari. Dan untuk 15 are ini rata-rata kami bisa menghasilkan antara 5-6 kwintal kembang kol,” kata Hamdi.

Jurnalisme warga: Wardi, Labuapi

Perang Topat Wujud Keluhuran Budaya dan Toleransi Ummat Beragama

perangtopatSelain wisata alam yang tersebar di berbagai penjuru, di Lombok juga terdapat banyak sekali wisata budaya, diantaranya adalah “TRADISI PERANG TOPAT” yang merupakan tradisi turun temurun yang mulai dilakukan sepeninggal penjajahan Bali di Lombok di masa lampau. Tradisi ini di lakukan dengan cara saling lempar dengan menggunakan ketupat antara Ummat Islam dan Ummat Hindu Lombok.
Dengan menggunakan pakaian adat khas Sasak dan Bali ribuan warga Sasak dan umat Hindu bersama-sama dengan damai merayakan upacara keagamaan yang dirayakan tiap tahun di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Sebagaimana evennya digelar, Selasa (13/12-2016) di pelataran Pura Lingsar digelar tradisi tahunan bernama Perang Topat. Keunikan tradisi ini mengundang kalangan pejabat seperti Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, beserta segenap anggota Muspida, Kadis Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi dan tentunya wisatawan asing yang dibawa para tour operator turut menyaksikan tradisi yang merupakan bentuk manifestasi kerukunan dua ummat beragama Muslim di Lombok dan Hindu Bali yang tinggal di Lombok.
Ketua Pengelola Kemaliq Lingsar, Lalu Suparman Taufik menjelaskan, prosesi Perang Topat dimulai dengan mengelilingkan sesaji berupa makanan, buah, dan sejumlah hasil bumi sebagai sarana persembahyangan dan prosesi ini didominasi masyarakat Sasak dan beberapa tokoh umat Hindu yang ada di Lombok. Sarana persembahyangan seperti kebon odek, sesaji ditempatkan didalam Pura Kemalik.Prosesi kemudian dilanjutkan dengan perang topat, bertepatan dengan gugur bunga waru atau dalam bahasa Sasaknya “rorok kembang waru” yakni menjelang tenggelamnya sinar matahari sekitar pukul 17.30.Perang Topat yang merupakan acara ritual sekaligus bagian dari Pujawali menggunakan makanan sajian berupa ketupat yang juga merupakan sesajian dalam upacara. Setelah itu ketupat yang sudah dipakai untuk perang ini dibawa pulang oleh masyarakat khususnya petani, karena diyakini dapat dipergunakan sebagai bubus untuk dijadikan pupuk yang ditaburkan di sawah dan kebun pada saat malam hari seraya mohon doa pada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan kesuburan bumi dan hasil pertanian yang semakin melimpah.
Perang topat merupakan rangkaian pelaksanaan upacara pujawali yaitu upacara sebagai ungkapan rasa syukur umat manusia yang telah diberikan keselamatan, sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta.
Ber bagai kegiatan digelar sebelum dan sesudah terlaksananya Perang Topat. Diantaranya gotong royong masyarakat yang dilaksanakan ummat Hindu dan warga suku Sasak di Pelataran Pura dan Kemaliq Lingsar. Memasang Abah-Abah atau memasang perlengkapan upacara dan Sabun Rah  juga dilaksanakan ummat Hindu dan Ummat Muslim Ssaak.  Napak Tilas Negelingan Kerbau oleh Ummat Islam Sasak dan Ummat HIndu. Persembahyangan Ummat Hindu dan Perang Topat, Bebeteh/Ngelukar yang dilaksanakan ummat Hindu dan ummat Muslim-Sasak.
Jurnalisme warga; Wardi, Labuapi

Cegah Infljuenza Hingga Sesak Napas Dengan Mangga

ManggaBanyak varietas mangga dan tidak kurang dari 200 jenis ragam dan varietasnya. Dibalik kelezatannya, mangga memiliki banyak khasiat yang cukup bermanfaat. Yakni dapat menyembuhkan penyakit influenza, penambah nafsu makan, menyembuhkan luka pada kulit, radang tenggorokan atau batuk dan masih banyak penyakit lainnya.

Khasiat dari buah mangga begitu banyak, Seperti bila menaruh mangga di kamar akan mampu mengusir nyamuk, karena baunya yang harum tak disukai nyamuk. Dan bila influenza menhyerang, makanlah manbgga tiga biji bakal dapat terobati. Dan untuk menguatkan rasa anggur yang bias disajikan dalam jamuan makan malam hanya dengan menyajikan satu biji buah mangga dapat memperkuat rasa anggur.

Mangga memiliki kandungan vitamin A, C dan E yang sangat bagus untuk keremajaan kulit dan mencegah kanker. Karena dalam mangga terdpat karotenoid yakni bahan penumpas kanker yang baik. Kandungan asam galat yang ada pada mangga, sangat baik buat pencermaan. Selain itu kesehatan mata, mulut dan tenggorokan gunakanlah buah mangga.

Jika belanja mangga jangan pilih yang terlalu matang atau mentah, pilihlah kualitas yang pas yaitu matang di pohon. Teksturnya padat tapi tak tyerlalu keras. Baunya harum tapi tak menyengat.

Untuk tips mengobati influenza. Siapkan buah mangga satu buah, ambil dagingnya, tambahkan jahe seukuran satu jari dan dua bawang putih . Semua bahan direbuas dengan 500 cc air sampai tersisa setengahnhya. Kemudian saring dan minum selagi hangat.

Sedangkan untuk batuk atau sesak napas, siapkan mangga satu buah, satu sendok makan jeruk nipis, dua sendok madu, 100 ml air hangat . Campur semua bahan dan belebder halus . Minum dua kali sehari. Untuk itu disarankan mengkonsumski mangga tkidak saja memenuhi kebutuhan vitamin, namun bias dicampur dengan bahan lain sebagai obat.

Wardi, Jurnalisme  warga Labuapi

Pepaya Menakjubkan Berkat Pupuk organik Cair EM4

Raden WardanaLuas lahannya tak seberapa, paling tiga are saja. Namun jangan heran kalau hasil tanaman buahnya berupa papaya jenis Thailand sungguh menakjubkan dan mungkin menjadikan iri atau bahkan membuat heran petani lainnya. Raden Wardana (53) petani asal Dusun Montong, Desa Suranadi, Kecamatan Narmada, Lombok Barat telah membuktikan kesungguhannya dalam menjalankan usaha taninya dengan hasil produksi yang memuaskan. Kerja keras, kesungguhan dan potret keberhasilan Raden Wardana tidak datang begitu saja. Selain teknologi pertanian yang intens dilaplikasikannya, juga bimbingan dari penyuluh swadaya juga tak pernah lepas dari cara bertani semestinya yang dilakukan.

Terang saja dibalik kesuksesan tersebut, Pak Raden, sapaan akrabnya tak pernah mengabaikan cara bertani petani-petani zaman dahulu. Ia masih mempertahankan cara pertanian yang serba organic, tanpa tergiur dengan pertanian ala instan yang sesungguhnya merusak tanah dan tanaman. Cara bertani organic dimaksud, Raden mengaplikasikan penggunaan pupuk kompos cair EM4 dalam setiap usaha tani yang dikembangkannya, terlebih pada tanaman buah seperti papaya Thailand yang tengah dikembangkannya di Dusun Presak, Sidekarya, Desa Batukumbung, Kecamatan Lingsar.

Pengembangan tanaman buah apa saja termasuk tanaman pangan di desa yang dikenal desa mandiri energi ini berjalan cukup baik. Karena selain didukung oleh limbah atau kotoran sapi yang tersedia banyak disini, sangat memungkinkan dikembangkan pertanian organic dengan sentuhan atau aplikasi pupuk kompos itu sendiri. “Pertanian di sini cukup bagus, karena disini sentra produksi sapi yang menghasilkan kotoran sapi yang bisa kita olah dengan pupuk organic untuk dijadikan pupuk tanaman,” ujar lelaki yang juga staf PDAM Kecamatan Narmada ini.

Hasil usaha tanaman buah berupa papaya thailand yang ditanganinya bersama warga setempat dibawah bimbingan penyuluh swadaya kecamatan lingsar dan Kecamatan Narmada, Ali Swasta memang mengagumkan. Bagaimana tidak lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman buah ini begitu rimbun, daunnya yang menghijau dan segar serta buahnya yang cukup banyak dalam satu pohon membuat Pak Raden dan kawan-kawan petani lainnya boleh berbangga. “Saya perkirakan dalam satu pohon itu bisa menghasilkan buah antara 15-20 buah papaya dengan ukuran yang besar, sedang dan kecil. Rasanya juga manis dan banyak konsumen yang nyari,” kata Raden.

Pengembangan tanaman buah papaya dengan aplikasi pupuk kompos  ini setidaknya tidak saja memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi diri Raden Wardana sendiri, namun juga memberi nilai lebih setidaknya mampu mendongkrak pendapatan usaha tani warga dari tanaman buah papaya saja. Belum lagi tanaman palawija ataukah tanaman pangan lainnya.

“Karena itu saya bersama rekan-rekan petani lainnya akan terus menggunakan pemupukan organik dengan aplikasi pupuk kompos ini untuk menghasilkan produksi pertanian yang ramah lingkungan, layak dikonsumsi dan menyehatkan,” terang Wardana.

Jurnalis Warga: Penulis: Wardi, warga Labuapi

Rekreasi Mancing, Hilangkan Kepenatan Di Kolam Lingsar

DSC_1359Selain menikmati keindahan alam, belanja, atau berburu kuliner, satu kegiatan lagi yang menjadi sarana rekreasi banyak anggota masyarakat adalah memancing. Baik dilakukan di laut, sungai maupun di kolam pancing masing – masing memberikan sensasi yang berbeda namun mendatangkan kegembiraan yang sama.

Hari mulai beranjak sore. Di bawah cuaca yang sedikit berawan sinar matahari nampak menyembul kekuningan membias di antara daun – daun  kelapa melambai yang tengah tertiup angin  ataukah daun manggis yang berada di Taman Wisata Pura Lingsar, Lombok Barat.

Taman wisata Pura Lingsar yang dilengkapi sebuah kolam besar suatu hari di akhir pekan suasananya sedikit berbeda  dibanding dengan hari-hari biasanya. Kecuali acara Pujawali Perang Topat di Pura Lingsar maupun kegiatan-kegiatan keagamaan ummat Hindu lainnya yang kerapkali ramai. Namun keramaian kali ini ditandai dengan tigaratusan peserta lomba mancing se Pulau Lombok menjejali pinggir kolam besar di Taman Pura Lingsar.

Para mancing mania seakan tak ingin surut atau bahkan beranjak ke lokasi lainnya, mereka fokus mancing untuk mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya dan seberat-beratnya yang dibatasi hingga 5,5 Kg. Meski terik matahari dari pagi hingga sore menyengat dan hujan deras turun seketika, para mancing mania tak terusik sedikitpun untuk meninggalkan lokasi pemancingan yang menyediakan ikan berbagai jenis seperti ikan bawal, mujair, nila dan ikan jenis lainnya.

Arman Hadi Ketua Forum Pemuda Lingsar. menilai, event semacam ini sangatlah penting artinya untuk lebih mengenalkan secara luas Taman Lingsar sebagai salah satu obyek wisata unggulan di Lombok Barat. Tidak hanya pengunjung mengenal Taman Narmada saja. Di Taman Lingsar terdapat sejumlah pasilitas lainnya, selain taman yang indah dan asri, juga di tempat ini terdapat Pura Lingsar sebagai tempat persembahyangan ummat Hindu pada saat-saat tertentu. Di sini juga terdapat Kemaliq yang cukup disakralkan oleh masyarakat suku Sasak-Lombok. Demikian juga dengan keberadaan kolam besar di Taman Lingsar seluas 1 hektar ini, kerap kali digunakan untuk ajang rekreasi utamanya rekreasi mancing tidak saja bagi wisatawan lokal, namun juga wisatawan asing.  “Karena itu tak mengerankan pada setiap penghujung tahun, Taman Lingsar selalu dijadikan sebagai tempat upacara Perang Topat Pujawali Pura Lingsar,” tandasnya

Beragam masukan tersirat secara langsung dari para pemancing saat itu, agar kegiatan seperti ini bisa ditindaklanjuti atau diagendakan secara rutin. Tidak hanya pada saat moment-moment tertentu saja seperti ulang tahun, namun juga pada saat-saat yang lain. “Hal ini merupakan kegiatan positif dan hendaknya didukung oleh keberadaan pasilitas  memancing seperti peneduh agar para pemancing bisa betah dan fokus memancing,” kata Seban pemancing asal Peresak, Lombok Tengah dimintai pendapatnya.

Menyingkap soal pemanfaatan Taman Lingsar yang belum Maksimal ini, Arman Hadi punya proyeksi lain. Jika pelaksanaan kegiatan di Taman Lingsar termasuk lomba mancing seperti ini paling banter dilaksanakan oleh pengelola Taman Lingsar. Ia tak menampik selama ini keterlibatan Pemda khususnya instansi terkait belum kelihatan, jika tidak dikatakan sama sekali belum ada.

“Sebenarnya perlu ada dukungan yang lebih intensif dari Pemda. Katakanlah misalnya tersedianya sarana prasarana yang disiapkan seperti perahu sebagaimana di taman lainnya yang sudah populer seperti Taman Narmada ataukah Taman Impian Jaya Ancol, kolam di Taman Loang Baloq. Dengan sendirinya pengunjung akan datang sendiri dan Taman Lingsar menjadi lebih hidup,” ujar Arman yang juga aktif di setiap tournament sepakbola Lingsar ini.

Kadis Kelautan Perikananan Lobar Ir. H. Akhmad Subandi, MM memberi dukungan atas terselenggaranya lomba mancing ini. Bahkan ia mengaku memberikan kontribusi dengan menyumbang ikan di event ini. Hanya saja ia menyentil agar para pemancing lebih betah, diusulkan agar dibuatkan terop atau lapak pemancingan yang nyaman. Kegiatan ini bukan saja untuk rekreasi massal keluarga, namun juga sekaligus bagaimana mengajak masyarakat sejak dini dengan cara-cara yang sederhana dan praktis agar gemar makan ikan. Ia bahkan perlu mengajak Diparsenibud Lobar untuk berkiprah.

“Ya sekaligus juga hasil pancingan bisa langsung dibakar di tempat, karena rasanya kan beda, mengingat suasananya yang berbeda pula di tengah rimbunnya pohon manggis. Selain itu juga kegiatan seperti ini perlu ditindaklanjuti ke depannya, dengan mengadakan event serupa atau berkala seperti tiap-tiap hari libur atau minggu. Nanti bisa kerjasama dengan sponsor. Dengan demikian sektor lain juga akan hidup seperti usaha dagang, kuliner dan lainnya,” ujar spesialisasi bidang perikanan ini.

Kecuali itu, dengan hidupnya Taman Lingsar, maka pertumbuhan sektor lainnya juga akan memberikan multiplyer efeck. Sebutlah misalnya, yang paling praktis adalah tumbuhnya berbagai macam usaha ekonomi kreatif dengan munculnya warung-warung kecil seperti kuliner atau penjual berbagai jenis makanan, bahkan penjual umpan ikan untuk mancing juga bisa dimanfaatkan.

Jurnalis Warga: Wardi, Alamat  Labuapi.

Petani Durian Lobar Harapkan Perhatian Serius Pemerintah

??????????Durian Lombok Barat (Lobar) yang sudah tak asing lagi bagi para konsumen lokal maupun luar daerah semakin menambah antusias petani setempat untuk membudidayakan durian. Kecuali prospek secara ekonomi,durian juga bisa dikembangkan sebagai wisata agro yang menjanjikan.

Di Lombok Barat sendiri merupakan lumbung durian terbesar di NTB dan banyak tempat yang memiliki potensi penghasil buah durian. Sebutlah misalnya  Desa Kekait, Medas dan Sidemen Kecamatan Batu Layar, Karang Bayan, Sesaot, Lembah Sempage, Segerongan dan beberapa desa lain dikawasan kecamatan Lingsar, Narmada dan Gunung Sari.

Sayangnya potensi buah-buahan yang cukup menjanjikan ini belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat utamanya dalam pengembangan sistem pemasaran maupun pengembangan pembudidayaan penanaman durian, sehingga muncul menjadi destinasi yang dapat diandalakan bagi kabupaten Lombok Barat.

Padahal sebagaimana diungkapkan Mamiq Mustaan, usaha rambutan bisa memberikan keuntungan yang lumayan besar dibanding dengan buah-buahan yang lain, disamping itu para penikmat buah ini kebanyakan datang langsung sambil jalan-jalan dan membawa keluarga ketempat ini.

Hasil panen durian dari tahun ke tahun selalu meningkat. Hal ini disebabkan karena petani sudah menguasai teknologi budidaya durian yang benar dan menghasilkan produksi yang banyak. Kecuali itu perluasan areal penananamn juga dilakukan. Harga durianpun meski puasa dan Lebaran saat ini selalu meningkat. Meski begitu konsumen selalu berdatangan untuk membeli durian. Silih berganti konsumen datang ke area pemasarannya di Karang Bayan maupun langsung ke lokasi sentra pengembangan durian di Lombok Barat.

Jurnalis Warga: Wardi asal Labuapi

Berkat Pupuk Organik Tomat Petani Sembung Meningkat

??????????Hasil produksi pertanian khususnya bagi tanaman holtikultura dengan sistem penanaman an organic atau kimia tidak selamanya menguntungkan petani. Kalaupun petani untung tapi produksi yang dihasilkan justru menimbulkan penyakit jika dikonsumsi, karena berbahan kimia saat dilakukan pemupukan.

Namun yang terjadi sebaliknya. Sejumlah petani khususnya petani jenis sayur-sayuran tomat di Kecamatan Narmada, Lombok Barat justru mengaku puas atas hasil produksi tomatnya setelah memanfaatkan pupuk organic pada tanaman tomatnya seluas 50 are yang disewanya dari pemilik tanah.

“Alhamdulillah hasilnya ternyata membanggakan. Sebelumnya kami memang getol menggunakan pupuk kimia seperti obat pembasmi hama dan ternyata hasil buah tak bagus-bagus amat jika dibandingkan dengan menggunakan pupuk organic seperti yang saya lihat hasilnya sekarang,” kata Sapardi (35) petani tomat asal Desa Sembung Tengah, Kecamatan Narmada, Lombok Barat ini.

Menurut Sapardi, memperoduksi pupuk organik baginya tak sulit. Meski pendidikannya hanya tamat SD, namun ayah dua anak ini tekun membaca pengetahuan dari buku-buku yang ada di perpustakaan desa terutama yang menyangkuit bidang pertanian, khsusunya penggunaan pupuk organic bagi peningkatan hasil pertanian.

Dalam buku yang ia pinjam sekali seminggu di perpustakaan desanya itu, Sapardi ia memulai membuat pupuk organic dengan memanfaatkan sisa-sisa kotoran ternak berupa kotoran ayam, kotoran sapi, kotoran kuda, kotoran itik yang dikombinasikan  dengan kotoran rumah tangga (sampah) yang berasal dari dedaunan. “Bahkan bekas jerami hasil panen sebelumnya juga kami manfaatkan untuk pembuatan pupuk organic,” kata Sapardi.

Sebelum masa tanam tomat dkimulai, Sapardi menaburkan hasil olahan pupuk organic di sejumlah bedengan tanaman tomatnya dengan mengaduk-aduknya bersdama tanah sawah dimaksud. Selanjutnya Sapardi langsung menanaminya dengan tomat yang sudah disemai terlebih dahulu. “Saya kagum setelah melihat pertumbuhan buah, daun dan batangnya serta bunganya yang meghasilkan buah cukup pesat. “Selama menggunakan pupuk organic dan hasilnya cukup memuaskan, saya putuskan untuk berhenti menggunakan pupuk kimia yang ternyata selama ini tidak saja membahayakan bagi tanaman, tapi juga berpengaruh buruk terhadap lingkungan sekitar,” jelas Sapardi sembari tersenyum kecil.

Wardi, Labuapi, Lombok Barat.

Daun Salam Kaya Manfaat

Daun salam keringDaun salam tumbuh liar di hutan dan pegunungan, atau ditanam di pekarangan dan sekitar rumah. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1,800 m dpl. Pohon bertajuk rimbun, tinggi mencapai 25 m, berakar tunggang, batang bulat, permukaan licin. Daun tunggal, letak berhadapan, bertangkai yang panjangnya 0,5-1 cm.

Helaian daun bentuknya lonjong sampai elips atau bundar telur sungsang, ujung meruncing, pangkal runcing, tepi rata, panjang 5-15 cm, lebar 3-8 cm, pertulangan menyirip, permukaan atas licin berwarna hijau tua, permukaan bawah warnanya hijau muda. Daun bila diremas berbau harum.

Bunganya bunga majemuk tersusun dalam malai yang keluar dari ujung ranting, warnanya putih, baunya harum. Buahnya buah buni, bulat, diameter 8-9 mm, warnanya bila muda hijau, setelah masak menjadi merah gelap, rasanya agak sepat. Biji bulat, penampang sekitar 1 cm, warnanya coklat. Salam ditanam untuk diambil daunnya sebagai pelengkap bumbu dapur, kulit pohonnya dipakai sebagai bahan pewarna jala atau anyaman bambu. Perbanyakan dengan biji, cangkok atau stek.

Kegunaan daun salam untuk mencegah berbagai penhyakit diantaranya, diare. Caranya 15 g daun dicuci bersih lalu direbus dengan 1 gelas air bersih selama 15 menit. Tambahkan sedikit garam. Setelah dingin disaring lalu diminum.

Kencing manis: 7 lembar daun salam dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampal tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 2 kali minum. Sakit maag: 15-20 lembar daun dicuci bersih, rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih. Tambahkan gula merah secukupnya. Minum sebagai teh setiap hari, sampai rasa penuh dan perih di lambung menghilang.

Mabuk akibat alcohol, 1 genggam buah salam yang sudah masak dicuci bersih lalu ditumbuk sampai halus. Peras dan saring, lalu diminum. Kudis, gatal, daun atau kulit batang atau akar, dicuci bersih lalu digiling halus sampai menjadi adonan seperti bubur. Balurkan ketempat yang sakit.

Wardi, Jurnalisme/Artikel Warga Labuapi

1 2 3 18